Analisis

Polemik Statistik Arthur Irawan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Statistik merupakan salah satu alat analisis kuantitatif dalam sepak bola. Dengan penggunaan yang tepat, data statistik bisa membantu proses pengambilan keputusan dengan lebih baik. Lalu, bagaimana penggunaan data statistik yang baik?

Sebelum membahas lebih jauh, kita harus memahami bahwa data adalah koleksi tentang fakta kejadian yang terjadi di lapangan. Pemain A melakukan umpan ke Pemain B akan tercatat sesuai dengan kejadian tersebut. Namun, kumpulan data belum bisa kita gunakan untuk mengambil keputusan apapun.

Seorang pemain dengan data jumlah umpan sebanyak 61 dan dengan akurasi 78% belum mampu memberikan informasi berguna. Diperlukan interpretasi dan analisis lebih lanjut mengenai data tersebut. Misalkan, posisi dan arah pemain tersebut melepaskan umpan.

Hal penting lain yang harus diperhatikan adalah hubungan saling melengkapi antara statistik dan sepak bola itu sendiri.

Statistik dan analisis yang dilakukan tentu harus mempertimbangkan aspek sepak bola yang dikembangkan oleh klub. Statistik harus mampu menyediakan dan melayani kebutuhan pengambangan aspek sepak bola yang ingin dituju klub tersebut. Bukan sebaliknya.

Untuk mencapai hal tersebut, analisis yang dilakukan harus mempertimbangkan game model yang dijalankan oleh klub atau pelatih kepalanya. Dari game model tersebut kemudian bisa ditentukan mengenai metrik dan Key Performance Index (KPI) yang harus diukur melalui analisis data statistik.

Contohnya, tim yang fokus penyerangannya melalui ruang sayap dan tim yang fokus menyerang lewat ruang tengah tentu akan memiliki KPI yang berbeda untuk menilai fullback-nya.

Perihal statistik ini kembali ramai menjadi perbincangan setelah Chief Executive Officer PSS, Marco Garcia Paulo menanggapi soal pemilihan Arthur Irawan menjadi sebelas pertama yang sering turun saat PSS Sleman bermain.

Saat banyak orang menilai penampilan Arthur tidak cukup untuk menjadikannya pilihan utama salah satu fullback PSS, Marco membela dengan mengatakan bahwa secara statistik Arthur menunjukkan performa yang bagus.

Statistik seperti apa yang digunakan oleh Marco sehingga bisa mengatakan demikian. Apakah memang mata kebanyakan orang kurang tepat melihat performa Arthur? Mari kita coba sedikit analisis data statistik Arthur dalam penampilannya di Liga 1 musim ini.

Untuk menentukan pembahasan mengenai analisis statistik aksi menyerang, kita harus mengetahui game model atau sistem yang diterapkan oleh Dejan Antonic di PSS.

Dari empat pertandingan liga yang sudah dijalani, mantan pelatih Madura United tersebut terlihat menitikberatkan serangan Super Elja melalui ruang sayap. Kombinasi umpan di ruang sayap sering melibatkan fullback, pemain sayap, dan gelandang.

Akibatnya, fullback memiliki peran dan tanggung jawab yang cukup besar saat momen menyerang dalam sistem yang diterapkan oleh Dejan.

Secara tidak langsung, aksi yang dilakukan oleh fullback tentu memengaruhi keberhasilan skema serangan yang akan dibangun untuk menembus pertahanan lawan dan secara konsisten menciptakan peluang.

Sejak awal bergabung dengan PSS, Arthur Irawan sering ditempatkan di posisi fullback kiri. Di pos itu, mantan pemain Badak Lampung tersebut bersaing dengan Samsul Arifin dan Derry Rachman.

Jadi, untuk menilai performa Arthur, kita bisa membandingkannya dengan salah satu dari pemain tersebut. Kami coba membandingkan catatan Arthur dan Samsul selama penampilannya di Liga 1 musim ini.

Gambar 1. Aksi Menyerang Arthur saat bermain sebagai fullback kiri

Dalam penampilannya di pos fullback kiri, Arthur mencatatkan total 39 umpan, dengan 26 umpan berhasil (hijau) dan 13 kali umpan gagal (merah).

Dari gambar 1, dapat diketahui bahwa mayoritas umpan berhasil yang dilepaskan oleh Arthur adalah umpan ke arah belakang dan umpan horizontal. Sedangkan umpan vertikal yang coba dilakukan merupakan umpan jauh dan lebih sering gagal.

Dari 26 umpan sukses tersebut, 5 umpan berhasil mendekatkan bola ke gawang lawan. Apakah ini langsung menunjukkan bahwa umpan itu bagus? Belum tentu. Posisi awal umpan yang mayoritas dari setengah lapangan sendiri tentu kurang ideal untuk melanjutkan serangan tersebut.

Posisi Arthur yang jauh dari penerima umpan sering membuat dirinya susah untuk langsung memberikan dukungan atau melanjutkan serangan dengan kombinasi umpan di ruang sayap.

Penerima umpan berpotensi berada dalam keadaan terisolasi, tanpa dukungan yang mencukupi dari pemain yang lain atau bahkan dalam situasi kalah jumlah.

Selanjutnya, jika kita lihat dari posisi umpan dan area menerima umpan dari gambar 1, terlihat bahwa Arthur lebih dominan melepaskan dan menerima umpan dari setengah lapangan sendiri.

Keterlibatan Arthur dalam progresi serangan di area yang lebih tinggi tidak terlalu intensif. Saat bermain di posisi ini, Arthur bahkan belum pernah melakukan percobaan crossing ke dalam kotak penalti lawan.

Hal ini harusnya menjadi catatan tersendiri bagi tim pelatih. Dengan skema serangan yang berfokus pada ruang sayap, memiliki fullback yang tidak maksimal terlibat dalam serangan tentu mengganggu keberhasilan serangan yang akan dilakukan.

Bagaimana dengan performa fullback kiri yang lain, yakni Samsul Arifin?

Gambar 2. Aksi Menyerang Samsul saat bermain sebagai fullback kiri

Samsul melepaskan total 67 umpan dengan 39 umpan sukses dan 28 umpan gagal. Jika kita lihat arah umpannya, arah umpan yang dilepaskan oleh Samsul merata, ke arah belakang, depan, dan samping. Jumlah percobaan umpan ke depan pun terlihat lebih banyak dibandingkan dengan Arthur.

Jika kita lihat lebih detail, jarak umpan yang dilepaskan oleh Samsul juga tidak terlalu jauh. Kondisi tersebut tentu mempermudah tim melakukan kombinasi umpan di ruang sayap karena jarak dengan penerima umpan menjadi lebih dekat.

Kemungkinan PSS untuk menjaga penguasaan bola menjadi lebih besar dan memperbesar peluang untuk mencari celah di pertahanan lawan.

Dari gambar 2, terlihat bahwa keterlibatan Samsul saat momen menyerang lebih baik dibandingkan dengan Arthur. Mantan bek Persela itu lebih banyak melepaskan dan menerima umpan di setengah lapangan lawan. Samsul lebih banyak terlibat membatu proses serangan yang dibangun oleh PSS.

Posisi menerima umpan yang lebih tinggi membuat Samsul lebih banyak memiliki peluang untuk melepaskan crossing ke kotak penalti lawan.

Saat dimainkan di posisi fullback kanan, catatan Arthur tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Walau mendapatkan kesempatan melepaskan crossing dari posisi yang cukup rendah, mayoritas posisi awal mengumpan dan area menerima umpan menunjukkan hasil yang hampir sama seperti saat bermain di sisi kiri.

Gambar 3. Aksi Menyerang Arthur saat bermain sebagai fullback kanan

Dari aspek menyerang, terlihat bahwa statistik yang dicatatkan oleh Samsul lebih baik dibandingkan oleh Arthur. Dengan sistem yang diterapkan oleh Dejan, memilih Samsul dibandingkan Arthur adalah pilihan yang sangat logis. Keterlibatan Samsul dalam menyerang akan lebih membantu tim dalam menjalankan skemanya.

Dalam sepak bola, momen menyerang secara langsung akan berhubungan dengan momen bertahan. Saat tim menyerang dengan baik, maka tim tersebut seharusnya akan lebih siap saat harus berubah ke momen bertahan.

Gambar 4. Aksi bertahan Arthur saat bermain sebagai fullback kiri

Gambar 5. Aksi bertahan Samsul saat bermain sebagai fullback kiri

Berdasarkan data, Samsul memiliki cakupan area aksi bertahan yang lebih luas dibandingkan dengan Arthur. Samsul mencatatkan lebih banyak aksi bertahan di area bertahan lawan. Hal ini tentu berhubungan dengan lebih terlibatnya pemain asal Pasuruan tersebut saat fase menyerang.

Dengan posisi yang lebih ke depan, Samsul bisa langsung membantu memberikan pressure ketika temannya kehilangan bola. Mencegah lawan melakukan serangan balik cepat.

Bahkan, dari gambar 5, terlihat Samsul beberapa kali berhasil melakukan recovery bola di dekat kotak penalti lawan. Kondisi yang tentu menguntungkan bagi PSS yang dapat menyerang kembali langsung dari area bertahan lawan.

Aksi bertahan yang dilakukan Samsul di setengah lapangan sendiri pun posisinya lebih tinggi dibandingkan Arthur. Dengan sistem bertahan yang sering berorientasi penjagaan orang per orang (man-to-man marking), agresifitas dan intensitas aksi bertahan menjadi hal yang penting.

Semakin tinggi bek mampu mengganggu pemain lawan tentu akan semakin baik karena akan semakin menjauhkan lawan dari gawang. Hal itu juga berhubungan dengan penjagaan yang diberikan kepada pemain lawan untuk membuatnya tidak nyaman menguasai bola dan menerima bola menghadap gawang.

Agresifitas pressing yang dilakukan oleh Samsul seperti yang terlihat pada gambar 5 bisa menjadi tanda bahwa ia berusaha untuk terus mengganggu lawan yang dijaganya agar tidak mudah menguasai bola dan menghadap gawang.

Analisis yang dilakukan ini tentu ada batasannya. Data yang digunakan masih berpusat pada aksi yang melibatkan bola. Sehingga data yang dikumpulkan belum bisa menggambarkan secara utuh aksi yang dilakukan pemain saat tidak terlibat langsung dengan bola.

Namun, bukan berarti hal tersebut tidak bisa dilakukan. Pembahasan akan lebih menarik saat memasukkan aksi ini. Namun, untuk sekarang, analisis yang dilakukan dirasa sudah cukup untuk memberikan gambaran soal polemik yang melibatkan statistik ini.

Dari analisis statistik di atas terlihat bahwa Samsul bisa lebih menjalankan peran yang sesuai dengan skema permainan. Jadi, statistik seperti apa yang dilihat oleh Marco untuk menentukan pemilihan pemain.

Jika pemilihan Arthur adalah murni dari pelatih, bagaimana komunikasi antara tim pelatih dan departemen analis berdasarkan data yang dimiliki? Bagaimana kontrol dari manajemen atau bahkan direktur olahraga yang fokus terhadap penampilan di lapangan?

Komentar

Comments are closed.