Opini

Proses Panjang Pembentukan Fisik Pemain

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

“Di dalam sepakbola, ada empat unsur penting yang biasa disebut teori piramida latihan. Unsur paling dasar adalah fisik, setelah itu taktik, teknik, baru kemudian mental. Jadi kalau ditanya apakah fisik itu penting, ya tentu saja sangat penting.”

Kalimat di atas mengawali perbincangan saya dengan Komarudin, pelatih fisik PSS musim 2018, pada suatu sore di Lapangan Banyuraden. Sore itu saya memang berniat untuk menemui pelatih yang acap kali dipanggil Bang Komar tersebut untuk membahas mengenai Football Fitness.

Pembentukan fisik untuk memaksimalkan kemampuan pemain. Karena pada dasarnya, fisik bagi pemain sepakbola, adalah pondasi untuk dapat bermain secara maksimal.
Musim 2018, PSS melakukan gebrakan dengan menggandeng para professional untuk bisa memaksimalkan empat unsur yang disebutkan di atas. Komarudin, didapuk sebagai pelatih fisik.

Untuk bagian taktik dan teknik, Coach Seto dan Danilo Fernando ditunjuk sebagai Pelatih dan asisten pelatih. Dari segi mental pemain di-handle  oleh Bu Kumala, yang berprofesi sebagai Psikolog.

Pembentukan Fisik: Sebuah Proses Panjang

Pembentukan fisik bagi seorang atlet merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Tidak bisa dibentuk hanya dalam waktu singkat. Hal ini diamini oleh Bang Komar. “Optimalnya, pembentukan fisik dilakukan selama tiga bulan sebelum kompetisi dimulai.”
Pertanyaan besar berikutnya adalah: Apakah proses pembentukan fisik pemain PSS selama pramusim untuk kompetisi 2018 sudah optimal?

Jika dirunut berdasarkan persiapan yang dilakukan pada musim lalu, Super Elja mulai melakukan training camp pada awal bulan Februari. Sedangkan kompetisi Liga 2 dimulai pada akhir April.

Dalam buku Fitness Testing Rationale and Test (2017), ada tiga tahapan yang harus dilalui untuk membentuk fisik atlet: Pre-Training Program, Training, dan Post Training Program.

Fisik pemain adalah hal yang bersifat individu, yang berarti satu pemain dengan pemain lainnya memiliki hasil yang berbeda-beda. Pada fase pre training, dilakukan tes pengukuran fisik pemain, yang bisa disebut sebagai assesment.

Dalam wawancara dengan media ofisial PSS pada Sabtu (06/01/2018), Bang Komar menjelaskan bahwa telah melakukan assessment. Tes fisik yang dilakukan melingkupi sembilan macam tes, namun ada satu tes yang tidak dilakukan, yakni latihan kelincahan (agility).

Sesi tersebut tidak dilakukan karena faktor lapangan yang licin karena kondisi basah setelah diguyur hujan. Jika tesnya tetap dilakukan, hasilnya bisa kurang maksimal atau justru bisa berbahaya bagi pemain.

Assesment dilakukan dengan melakukan serangkaian kegiatan yang disebut sebagai Fitness Test. Menurut Fitness Testing Rationale and Tests (2017), ada sembilan komponen yang bisa bisa dilakukan sebagai assessment awal.

Komponen tersebut di antaranya adalah: Aerobic Power, Anaerobic Capacity, Agility, Body Composition, Flexibility, Endurance, Power, Strenght, dan Speed. Tiap komponen memiliki indikator tes masing-masing yang telah memiliki standar tertentu.

Hasil dari assesment tersebut bertujuan untuk: melihat kelebihan dan kekurangan para pemain, memotivasi para pemain, menentukan spesialisasi pemain, dan menentukan cetak biru program pelatihan fisik.

Setelah assesment awal dibuat, tim akan masuk ke program pelatihan fisik yang tertuju. Tim pelatih sudah merancang sebuah blue print, yang di dalamnya terdapat data setiap pemain.

Hasil assesment awal fisik para pemain PSS tidaklah homogen. Bang Komar membagi level fisik pemain dalam kategori Baik, Kurang, dan Sedang. Dengan data tersebut, tim pelatih menyusun program latihan yang spesifik. Tujuan utamanya tentu saja memaksimalkan fisik para pemain, yang kurang ditingkatkan dan yang bagus dipertahankan.

Pada saat latihan PSS Sleman, Bang Komar memberitahu metodenya mengelola kebugaran fisik punggawanya. “Pendekatan football science menjadi metode mengelola kebugaran fisik pemain. Salah satunya dengan mengolah data dari setiap pemain, hal tersebut menjadi acuan membenahi fisik setiap pemain disesuaikan dengan kondisinya masing-masing,” ujarnya.

Setelah selesai melakukan Pre Training Program, selanjutnya adalah fase Training. Pada musim lalu, latihan fisik para pemain PSS dimulai pada bulan Februari. PSS melakukan training camp selama dua minggu di kawasan Kaliurang dan Candi Ijo.

Selama dua minggu tersebut, porsi latihan fisik menjadi prioritas utama tim pelatih sebelum masuk ke teknik dan taktik. Peningkatan daya tahan (endurance), kekuatan (strenght), kecepatan (speed) dan kelincahan (agility) menjadi fokus utama.

Jika dirunut, PSS mulai menggeber latihan fisik segera setelah gelaran Coppa Sleman 2018. Porsi fisik menjadi menu utama tim pelatih di awal pembentukan tim (saat training camp), setelah itu baru kemudian fokus ke materi teknik dan taktik.

Hal itu dijabarkan oleh Bang Komar di salah satu sesi wawancaranya pada akhir Januari lalu. “Waktu efektif yang bisa kita lakukan adalah enam minggu ke depan. Dua minggu ini menyiapkan fisik secara umum, dua minggu berikutnya kolaborasi fisik-taktik, dan dua minggu terakhir, fisik diturunkan, taktik diperbanyak. Jika perubahan jadwal terjadi lagi, berdampak pada persiapan tim,” jelasnya.

Ketika masuk masa kompetisi, masuklah pada fase post training program. Fase di mana program pelatihan fisik sudah selesai dan tinggal melakukan maintenance. Latihan rutin tim selama masa kompetisi adalah bentuk dari fase ini. Pelatih fisik tidak lagi terfokus untuk membentuk fisik pemain, namun melakukan maintenance dan meningkatkan bagian-bagian yang kurang.

Setiap kali latihan rutin, pasti ada porsi latihan fisik yang ditujukan untuk mempertahankan fisik pemain supaya senantiasa berada dalam kondisi yang maksimal. Selama kompetisi tim pelatih juga memberikan porsi latihan khusus untuk pemain dengan kondisi fisik yang kurang, misal setelah cedera atau hal lainnya.

“Selama masa kompetisi, latihan fisik selalu integral dengan latihan yang lain. Untuk pemain yang fisiknya kurang, ya kita naikkan. Ada porsi (latihan) khusus bagi pemain yang fisiknya sangat kurang, akan kita berikan (latihan fisik) lebih banyak dibandingkan yang fisiknya sudah bagus.”

“Untuk yang sudah bagus, kita maintenance. Seperti itu,” kata pelatih fisik yang pernah memperkuat PSS di era 1990-an ini.

Sekali lagi, latihan fisik dalam sepakbola adalah hal yang berkesinambungan. Tidak bisa dipersiapkan dalam waktu singkat. Namun, perlu diingat juga bahwa fisik bukan soal persiapan di awal kompetisi saja. Kondisi yang telah diperoleh ketika digeber saat pramusim juga harus dipertahankan hingga akhir musim kompetisi.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad

Comments are closed.