Berita

PSS Rencanakan Pendekatan Marketing Baru

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Dalam mengembangkan PT Putra Sleman Sembada, Marco Gracia Paulo sebagai Direktur Utama tentu menginginkan pembaruan.

Bisa dibilang, paparan program kerjanya ingin membawa revolusi di dalam tubuh PT PSS. Salah satunya dalam divisi marketing dan bisnis yang sebelumnya tampak kurang bekerja secara maksimal dalam beberapa terakhir.

Marco tidak menginginkan marketing and business development seperti jaman dulu, tetapi mengadopsi beberapa klub di luar sekarang yang sudah fasih dengan revenue, kebutuhan perusahaan untuk memiliki pemasukan.

Apabila bila hal fundamental dalam peruhasaan seperti itu dimasukkan ke dalam tim marketing, ditakutkan mereka tidak dapat melaksanakan tugasnya. Divisi business development sebenarnya harus fokus menemukan, menganalisa. dan menciptkan program pengembangan bisnis.

Akan tetapi, apabila tim marketing dan business development melakukan cara konvensional seperti ketuk pintu untuk mencari sponsor, itu kurang efektif. Oleh karenanya, Marco ingin memisahkan hal itu dengan membuat divisi baru yakni divisi komersial dan revenue.

Di mana divisi tersebut bertujuan mengeluarkan potensi seluruh aset untuk dijadikan pundi-pundi sumber pemasukan. Program itu akan disusun secara integral, terarah dan tersetruktur sekaligus mencari dan mengaktivasi program-program bisnis kreatif.

Salah satunya adalah mengerjakan event bersama kelompok suporter, karena mereka juga merupakan partner dari sebuah klub. Ada banyak potensi yang dapat dilakukan terhadap rencana itu karena sejatinya Slaman Fans juga telah menunjukkan kapabilitasnya dalam menuangkan kerativitas

Marco mengatakan, andai suporter memiliki ide, hal tersebut bisa dijadikan sebegai program bersama. Nanti, soal pembagian pemasukan jelas akan dibagi untuk kedua belah pihak dengan perhitungan tertentu.

“Sebenarnya itu kewajiban klub dari manajemen untuk memastikan suporter juga bisa sustain, hidup dan berkembang, serta bisa mengaktualisasikan dirinya,” ujarnya.

Ia juga mengatakan strategi bisnis yang dibuat harus komprehensif dan terintegrasi dengan divisi-divisi yang lain. Ia mencotohkan sebuah kegagalan sebuah program akibat kasus tumpang tindihnya jadwal pemain pada H-1 pertandingan.

Misal, dari sisi pemasaran, seorang pemain yang dimiliki PSS mesti menjalani proses shooting iklan yang panjang dengan salah satu sponsor karena terkait kontrak. Namun, hal itu berbenturan dengan tim teknis PSS yang bertugas mengatur kondisi pemain menjelang pertandingan.

“(Dalam situasi di atas) memang klub mendapatkan duit. Namun, jangan sampai nantinya malah mengorbankan tujuan utama kita dalam berkompetisi dan mengorbankan divisi teknis,” tambahnya.

 

Komentar
Awaludin Al Arif

Masih menimba ilmu di UIN Sunan Kalijaga dan masih akan terus mencintai PSS. Bisa dihubungi via akun Twitter @al_arif14

Comments are closed.