Opini

Pulang

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Home is where the heart is bring back our glory. Sebuah big banner terpasang di tribun selatan Stadion Maguwoharjo, tahun 2014. Entah, siapa yang menggubah judul lagu Elvis Presley menjadi sebuah kalimat magis tersebut.

Rumah adalah tempat di mana kita mengembalikan kejayaan kita. Secara harfiah, itulah arti dari kalimat tersebut.

Tujuh tahun lalu, siapa menyangka kalimat tersebut akan berhubungan dengan situasi hari ini. Kondisi PSS yang terpuruk; di klasemen, di manajemen, dan di hati para pendukungnya. Mungkin saja, kembali ke rumah adalah cara untuk mengembalikan segalanya

PSS adalah Sleman. Vice Versa. PSS, Sleman, dan seluruh pendukungnya bak sebuah simpul. Ketiganya menguatkan dan saling membutuhkan. Ketika ketiga elemen tersebut bersatu, nyalakan tanda bahaya!

Kapan terakhir kali PSS, sebagai sebuah tim, berada di Sleman? Saya yakin, hampir 90% Sleman Fans tidak bisa menjawab pertanyaan ini.

Awal Juli 2020, Super Elja melakukan latihan rutin terakhirnya di Stadion Maguwoharjo dalam rangka persiapan Liga 1 2021. Ternyata keadaan berkata lain, kick off Liga 1 mundur, dan manajemen meliburkan anggota tim karena kondisi pandemi Covid-19 semakin parah.

Setelah itu, hampir 4 bulan Laskar Sembada tidak berada di Sleman. Para pemain pulang ke rumah, hanya ada beberapa pemain dari luar Pulau Jawa yang menetap di Sleman. Sebuah jarak mulai terbentuk antara Sleman Fans dengan kebanggaannya, ditambah dengan tidak interaktifnya admin media sosial PSS.

Beberapa hari sebelum kick off Liga 1, tim PSS berkumpul di Jakarta untuk mengadakan latihan perdana. Laskar Sembada menjadi tim yang paling terlambat melakukan latihan sebelum Liga 1 bergulir. Mepetnya waktu latihan membuat mereka terseok-seok di seri pertama.

Berbagai upaya dilakukan oleh Sleman Fans untuk memulangkan Super Elja ke Bumi Sembada. Mulai dari penjemputan di Bandung di laga terakhir seri perdana, sampai bertemu dengan pemilik saham PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) di Jakarta. Semua usaha tersebut mental dengan berbagai alasan yang tidak logis.

Bahkan, Sleman Fans sempat mendapat jawaban tak mengenakkan. Kala itu, mereka melakukan protes di Omah PSS. Tuntutan untuk mengganti pelatih yang dilayangkan mendapat disambut ancaman dari eks Direktur Utama PT PSS, Marco Gracia Paolo, untuk memindahkan homebase Super Elja.

Jeda antar seri pun tak membuat PSS pulang juga ke Sleman. Manajemen beralasan telah mendapat informasi bahwa laga lanjutan akan bergulir di Jakarta lagi. Alibi tersebut menjadi landasan untuk tetap melakukan pemusatan latihan di Senayan (dan sesekali terpantau di Tangerang).

Sontak pernyataan tersebut menjadi bahan tertawaan seluruh insan sepakbola tanah air. Sejak awal, seri kedua memang akan berlangsung di DIY dan Jawa Tengah. Klub lain pun saat itu berbondong-bondong datang ke Sleman untuk melakukan persiapan. Sementara itu, sang tuan rumah malah memilih menjadi musafir.

Solo menjadi homebase PSS selanjutnya setelah menetap lama di Jakarta. Dengan alasan tidak mendapatkan tempat latihan di Sleman, manajemen Laskar Sembada berniat menetap di Solo hingga seri kedua berakhir.

Kembali menjadi ironi, ketika Sleman – Solo yang hanya berjarak 2 jam perjalanan, Super Elja lebih memilih tinggal di Solo alih-alih pulang ke rumahnya. Tidak mendapatkan tempat latihan di Sleman juga menjadi bukti yang menunjukkan ketidaksiapan (atau memang sengaja tidak siap) untuk kembali ke Bumi Sembada.

Toh, keputusan itu tak membuahkan hasil juga. PSS tetap terpuruk di seri kedua. Situasi itu bertambah parah ketika menyangkut dengan hubungan dengan fans. Akhirnya, membuat PT PSS melakukan perombakan jajaran direksi per tanggal 26 Oktober 2021.

Beberapa nama dicopot, terutama Marco Gracia yang sebelumnya duduk sebagai Direktur Utama. Ia memang merupakan salah satu dari tiga nama yang diminta keluar oleh Sleman Fans. Keputusan itu menjadi angin segar untuk bisa mengurai benang kusut permasalahan dalam tubuh PSS.

Akhirnya pertemuan antara manajemen, yang sekarang berada di bawah Andywardhana Putra sebagai Direktur Utama PT PSS, dan Suporter PSS pada 28 Oktober 2021 menghasilkan kesepakatan bahwa Super Elja akan pulang.

Rencananya, Laskar Sembada akan berangkat dari Solo sehari setelah pertemuan tersebut, yakni pada 29 Oktober 2021, pukul 9 pagi. Sleman Fans tumpah ruah di Prambanan dengan niat menyambut kebanggaan mereka.

Akan tetapi, bus tim tak sedikitpun bergeming dari hotel tempat Dejan dan anak asuhnya menginap. Gayung tak bersambut, Sleman Fans membubarkan diri dengan kepala tertunduk. PSS urung pulang.

Setelah laga menghadapi Borneo FC, ada desas-desus tersebar mengatakan bahwa Super Elja dijadwalkan kembali ke Bumi Sembada pada tanggal 8 November 2021. Tim akan pulang sehari sesudah pertandingan menghadapi Persikabo 1973 yang mana juga merupakan laga terakhir di seri kedua Liga 1 musim ini.

Akhirnya, janji itu ditepati. Setelah penantian panjang, pagi ini (8/11) mesin bus tim PSS akan berderu. Para penggawa Super Elja akan menapaki jalan ke arah barat daya meninggalkan Surakarta. PSS SLEMAN PULANG KE PELUKAN BUMI SEMBADA!

Memperjuangkan sepak bola adalah salah satu cara merayakan sepak bola. Terkadang bukan hanya kalah dan menang yang kita rayakan. Pada akhirnya kita, Sleman Fans, merayakan kepulangan.

Dan apapun itu, rumah adalah tempat terbaik untuk pulang. Seburuk apapun itu kondisimu, sebesar apapun kesalahan yang telah terjadi, rumah akan selalu menerimamu. Pulang ke rumah akan menyembyhkan semua lukamu. Home is where the heart is.

Kepada PSS Sleman, selamat datang kembali di rumah.

Komentar

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad

Comments are closed.