Analisis

Review Persela vs PSS: Kehilangan Kontrol di Babak Kedua

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

PSS Sleman asuhan Dejan Antonic kembali gagal membawa pulang poin tiga di lanjutan pekan ke-17 Liga 1 2020/2021. Gol Juninho di menit 37 berhasil dibalas oleh Persela di akhir babak kedua melalui penalti Jabar Sharza.

Kegagalan mempertahankan performa hingga menit akhir yang terjadi pada pertandingan sebelumnya terulang lagi.

Sebelas pertama Persela vs PSS
Gambar 1. Sebelas pertama Persela vs PSS

Dari formasi 14231 yang biasa digunakan, Super Elja mencoba menyerang melalui area sayap dengan mencari menang jumlah (overload). Hal itu dilakukan melalui sedikit rotasi yang melibatkan Juninho, Ocvian, dan Samsul di sisi kiri.

Tujuannya adalah untuk memrogresi bola ke pertahanan Persela yang bertahan dengan formasi 14411. Serangan umumnya akan diakhiri dengan crossing ke dalam kotak penalti oleh Samsul atau Ocvian.

Ocvian dan Juninho akan bergantian untuk mengisi ruang antar lini dan ruang di depan lini tengah Persela. Dengan posisi Ocvian yang bergeser lebih ke tengah, Samsul bisa melakukan overlap untuk mengisi ruang sayap.

Posisi Arsyad di sisi jauh bola biasanya tetap lebar sebagai opsi. Kondisi itu membuat Laskar Sembada memiliki situasi 4v2 hingga 4v3 di sisi kiri.

Serangan PSS melalui sisi kiri
Gambar 2. Serangan PSS melalui sisi kiri

Tetapi, situasi menguntungkan yang didapat Kim dan kawan-kawan tersebut belum bisa dimanfaatkan secara maksimal. Terdapat dua hal yang mempengaruhi.

Pertama, PSS sering kali terlalu terburu-buru untuk melepaskan bola ke depan saat blok pertahanan Laskar Joko Tingkir masih terorganisir secara apik.

Akibatnya, para penggawa jadi sering kehilangan bola. Paling sering terjadi ketika bola diumpan ke ruang antar lini. Para pemain Persela langsung menjepit pembawa bola dari segala arah. Walaupun dari situasi tersebut Super Elja sering mendapat free kick.

Salah satu solusi yang bisa dilakukan pada situasi itu adalah dengan pemain di ruang antarlini melakukan backpass ke pemain yang berada di depan lini tengah Persela saat pemain lawan dengan cepat berusaha menekannya. Kala para pemain Laskar Joko Tingkir bergerak ke arah bola, tentu ada ruang yang ditinggalkan.

Jebakan pressing Persela dan salah satu solusi yang bisa digunakan PSS
Gambar 3. Jebakan pressing Persela dan salah satu solusi yang bisa digunakan PSS

Hal kedua yang membuat serangan anak asuh Dejan kurang maksimal adalah kurang maksimal melakukan switch play. Serangan Laskar Sembada lebih sering habis di salah satu sisi saja. Akibatnya, PSS jarang mampu menguasai bola dengan waktu yang relatif lama di area pertahanan lawan.

Sebenarnya skema itu sudah dilakukan beberapa kali oleh Super Elja di babak pertama tapi belum konsisten. Padahal jika dilakukan dengan lebih konsisten, switch play akan banyak membantu PSS dalam membongkar pertahanan Persela.

Perpindahan posisi bola ke kedua sisi berpotensi memecah blok pertahanan lawan dan memunculkan celah untuk melakukan serangan yang lebih berbahaya ke gawang Dwi Kuswanto.

Potensi switch play yang bisa dilakukan oleh PSS
Gambar 4. Potensi switch play yang bisa dilakukan oleh PSS

Lebih banyak menunggu dan pasif melakukan pressing di babak pertama, Persela tampil lebih agresif di babak kedua untuk mengejar ketertinggalan.

Akibatnya, PSS menjadi kesulitan untuk menguasai bola. Selain itu, Persela yang lebih sabar menguasai bola saat menyerang juga membuat Super Elja tidak berdaya di babak kedua.

Laskar Joko Tingkir yang masih tanpa pelatih kepala justru mampu mengambil kontrol permainan di babak kedua. Situasi tersebut tidak terlepas dari struktur yang diterapkan Persela saat menguasai bola.

Batata, Bustomi, dan Nasir dengan nyaman mensirkulasi bola dengan bantuan Birrul dan Abi di kedua sisi karena hanya berhadapan dengan Juninho tanpa dibantu Kojic.

Blok bertahan PSS menghadapi serangan Persela
Gambar 5. Blok bertahan PSS menghadapi serangan Persela

Membiarkan Persela mendapatkan momentum untuk terus melakukan serangan membuat PSS makin kesulitan untuk mengambil kembali kontrol pertandingan. Batata dan kawan-kawan yang berhasil memaksa Laskar Sembada bertahan lebih dalam kesulitan lepas dari tekanan lawan.

Peta Tembakan dan Nilai expected goals Persela vs PSS
Gambar 6. Peta Tembakan dan Nilai expected goals Persela vs PSS

Tidak adanya solusi jitu yang segera bisa dieksekusi oleh para pemain di lapangan memperbesar peluang Persela untuk banyak menciptakan tendangan ke gawang. Akibatnya, gangguan Juninho pada Sharza di berbuah tendangan penalti.

Kecewa terhadap hasil dan kecewa terhadap permainan dan tidak adanya perubahan yang dilakukan wajar dirasakan publik sepakbola Sleman. Mempertahankan keunggulan 1-0 dengan membiarkan lawan menguasai permainan bukanlah sesuatu yang ingin terus dilihat Sleman Fans.

Komentar

Comments are closed.