Analisis

Review Persib vs PSS: Penguasaan Bola Tidak Optimal

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Pertandingan Persib Bandung kontra PS Sleman, Minggu (15/3) di Stadion Jalak Harupat, Bandung, berlangsung menarik. Persib sangat dominan di babak pertama, sedangkan PSS mencoba bangkit di babak kedua.

Walaupun demikian, anak asuh Dejan Antonic kembali belum mampu meraih tiga poin. Super Elang Jawa harus mengakui keunggulan Maung Bandung, dengan skor 2-1.

Dejan tidak banyak mengubah komposisi pemain, tetap dengan formasi 14231. Ega Rizky mengawal lini belakang Super Elja bersama kuartet Bagus Munyeng, Aaron Evans, Asyraq Gufron, dan Arthur Irawan.

Double pivot kembali diisi oleh duet Wahyu Sukarta dan Guilherme Batata. Yehven Bokhashvili di lini depan ditopang oleh trio Irfan Bachdim, Zah Rahan, dan Irkham Mila.

Sementara itu, slogan “don’t change the winning team” diterapkan oleh Rene Alberts. Persib tetap bermain dengan formasi 1442. Pos penjaga gawang diisi oleh Made Wirawan. Supardi Nasir, Nick Kuipers, Victor Igbonefo, dan Ardi Idrus kembali mengawal lini belakang.

Kuartet Febri Hariyadi, Omid Nazari, Kim Kurniawan, dan Esteban Vizcarra yang mengisi lini tengah bertugas untuk menopang duet maut Geoffrey Castillion dan Wander Luiz.

Gambar 1. Sebelas Pertama Persib vs PSS

Permainan Vertikal Persib Sulitkan PSS

Dari tumbukan formasi kedua tim, PSS sebenarnya mendapatkan keuntungan di lini tengah dengan mendapatkan situasi menang jumlah 3v2. Namun, situasi menang jumlah ini tidak terlalu dimanfaatkan oleh Laskar Sembada.

Pressing ketat yang dimainkan Supardi dan kolega membuat Ega lebih sering melakukan umpan langsung ke lini depan. Selain itu, minimnya upaya gelandang PSS untuk keluar dari penjagaan lawan dan tidak adanya transposisi yang mengubah struktur saat membangun serangan memudahkan lawan dalam melakukan tekanan.

Gambar 2. High Pressing Persib untuk ganggu bangun serangan PSS. Tidak adanya pergerakan gelandang untuk melepaskan diri dari penjagaan lawan dan tidak adanya transposisi memudahkan Persib dalam melakukan pressing

Hal ini menyebabkan seolah terjadi situasi 6 (+1 Kiper) v 6 pada saat Super Elja mencoba membangun serangan. Ega yang menjadi satu-satunya pemain bebas tampak kesulitan untuk membangun serangan tanpa bantuan dari rekan-rekannya.

Umpan direct kepada penyerang atau pemain sayap juga kurang maksimal akibat cukup solidnya antisipasi lini belakang Persib. Skema wall pass untuk mencari Zah Rahan yang bebas di ruang antar lini menjadi tidak berjalan.

Pada saat bertahan, anak asuh Dejan tetap menggunakan formasi 14231 untuk menghentikan serangan Persib. Maung Bandung sendiri juga tidak banyak melakukan transposisi saat membangun serangan. Omid dan Kim membantu untuk melancarkan sirkulasi bola di lini pertama.

Keterlibatan enam pemain saat membangun serangan mengisyaratkan bahwa Persib akan banyak melepaskan umpan vertikal ke penyerang untuk progresi bola ke pertahanan lawan.

Gambar 3. Skema bangun serangan dan progresi bola Persib. Sirkulasi bola dalam situasi menang jumlah 6v4 di sepertiga awal. Umpan vertikal kepada penyerang dan antisipasi second ball oleh Castillion/Wander Luiz, Febri/Vizcarra dan Kim

Peran krusial dimiliki oleh Kim. Begitu Nick atau Supardi mampu menguasai bola dan menghadap ke depan, Kim akan naik untuk antisipasi second ball.

Jadi, begitu umpan vertikal dilepaskan kepada Wander Luiz, Castillion, Vizcarra, dan Kim atau Castillion, Febri, dan Kim sudah bersiap untuk menerima umpan pantul atau antisipasi second ball. Hal ini didukung juga oleh kecerdikan Wander Luiz dan Castillion dalam “menyerang” salah satu stopper lawan.

Gol kedua Persib berawal dari skema di atas. Nick yang bebas tanpa tekanan langsung mengirimkan bola lambung kepada Wander Luiz. Vizcarra yang menerima wall pass dari Wander Luiz kemudian memindahkan serangan ke sisi kanan.

Serangan ini diakhiri dengan crossing Supardi ke Wander Luiz yang bebas menyundul bola. Bagus Munyeng yang berada di tiang jauh justru terlalu fokus kepada bola sehingga tidak mampu mengganggu lompatan Wander Luiz.

Permainan vertikal dengan tempo tinggi yang dimainkan Persib setelah kebobolan di awal laga membuat PSS kesulitan. Para penggawa Super Elja seperti tidak siap dan tidak terbiasa dengan situasi ini.

Dalam banyak momen, Bagus dan kolega seperti kalah cepat bereaksi dibandingkan para pemain Maung Bandung, terutama dalam antisipasi second ball. Praktis babak pertama menjadi milik tuan rumah.

Transposisi yang Mudahkan Bangun Serangan PSS

Tak berdaya di babak pertama, Dejan mencoba melakukan beberapa perubahan. Masuknya Jefri Kurniawan menggantikan Gufron membuat posisi Wahyu dan Irfan berubah. Wahyu menggantikan Gufron sebagai stopper dan Irfan mengisi pos gelandang yang ditinggalkan Wahyu.

Perubahan yang dilakukan tidak hanya posisi pemain. Transposisi yang dilakukan Batata dan kolega memudahkan Super Elja saat membangun serangan.

Batata akan turun sejajar dengan kedua stopper. Zah Rahan dan Irfan kemudian akan mengisi area tengah untuk menjaga koneksi. Mila dan Jefri sebagai pemain sayap akan bergerak masuk ke ruang apit untuk mengisi ruang antar lini. Ruang sayap diisi oleh Munyeng dan Arthur yang naik cukup tinggi.

Gambar 4. Transposisi yang dilakukan oleh PSS pada saat membangun serangan di babak kedua

Konsekuensinya, PSS memiliki situasi menang jumlah 5v2 saat membangun serangan. Naiknya kedua fullback juga memaksa pemain sayap Persib untuk mengikutinya. Masuknya Mila dan Jefri ke ruang apit juga membuat Omid dan Kim berada dalam situasi dilematis.

Jika Omid atau Kim mencoba pressing Irfan atau Zah Rahan, salah satu dari Mila atau Jefri akan bebas di ruang antar lini. Situasi dilematis ini sebenarnya juga dialami oleh pemain sayap dan fullback Persib.

Nyamannya bangun serangan yang dilakukan oleh Super Elja belum bisa diikuti dengan lancarnya penciptaan peluang. Terdapat beberapa hal yang mengakibatkan kurang lancarnya penguasaan bola PSS di sepertiga akhir.

Pengambilan keputusan soal memilih waktu yang tepat untuk eksploitasi melalui ruang antar lini atau ruang di belakang bek lawan masih perlu ditingkatkan.

Selain itu, pemosisian Yehven dengan Mila atau Jefri yang berada di ruang antar lini juga belum maksimal. Jarak antar pemain tersebut sering terlalu berdekatan. Hal ini justru mempermudah lawan dalam melakukan penjagaan. Komunikasi taktik antar ketiganya masih perlu diperjelas.

Misalnya Yehven memilih turun di ruang antar lini, maka harus ada pemain lain yang mengantikannya menjaga kedalaman. Mila atau Jefri bisa mengambil posisi di antara stopper dan fullback lawan.

Jika stopper lawan mengikuti Yehven, akan ada ruang yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan run in behind. Jika stopper tetap pada posisinya, Yehven akan bebas di ruang antar lini.

Gambar 5. Salah satu contoh kasus jika Yehven memilih untuk turun ke ruang antar lini

Selain itu, menugaskan Irfan atau Zah Rahan untuk membantu membangun serangan tentu ada konsekuensinya. Meski sangat membantu proses bangun serangan dengan kemampuan handling ballnya, menjauhkan keduanya dari gawang lawan tentu mengurangi potensi serangan yang dimiliki oleh Super Elja.

Perubahan skema di babak kedua yang berbuah positif harusnya menjadi patokan untuk pertandingan selanjutnya. Super Elja harus bisa lebih memaksimalkan penguasaan bola.

Pada babak pertama, lambatnya reaksi pemain ketika ada yang mendapatkan second ball membuat PSS susah menguasai bola. Penguasaan bola di babak kedua lebih baik, tetapi belum maksimal ketika memasuki sepertiga akhir.

Dejan tentu paham dengan masalah yang masih dimiliki timnya. Respon cepat pada babak kedua menjadi bukti. Kita tinggal menunggu solusi apa yang akan diterapkan pelatih berlisensi UEFA Pro ini mengenai penguasaan bola di sepertiga akhir dan fase penciptaan peluang.

Kita sama-sama rindu Super Elja mencetak gol dari situasi open play bukan?

Komentar
Dani Rayoga

Football Addict | Physics Lovers | @DaniBRayoga

Comments are closed.