Analisis

Review Persita vs PSS: Buntu di Tengah

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Setelah tampil cukup apik di beberapa pertandingan sebelumnya, PSS Sleman justru harus mendapatkan hasil yang mengecewakan pada lanjutan Liga 1 2021/2022.

Menghadapi Persita, Super Elja gagal membalikkan keadaan setelah kebobolan pada menit ke-48. Bagus Nirwanto dan teman-teman harus mengakui keunggulan Pendekar Cisadane dengan skor akhir 1-0.

Dejan Antonic tidak banyak melakukan perubahan pada formasi dan susunan pemain yang turun. Perubahan hanya terjadi pada pemain yang tidak bisa bermain karena akumulasi kartu atau mengalami cedera.

Peran Nemanja Kojic sebagai penyerang digantikan oleh Juninho. Sedangkan pos gelandang serang diisi oleh Fitra Ridwan.

Tidak bisa tampil dengan kekuatan terbaik, pelatih Persita, Widodo Putro memainkan formasi 1433. Dhika Bhayangkara turun sebagai penjaga gawang. Di depannya terdapat backline yang berisi Muhammad Toha, Syaeful Anwar, Herwin Saputra, dan Kevin Gomes.

Kerja trio lini depan yang berisi Ade Jantra, Irsyad Maulana, dan Chandra Waskito mendapat bantuan dari Bae Sin-yeong, Duta Atapelwa, dan Raphael Maitimo sebagai gelandang tengah.

Gambar 1. Sebelas Pertama Persita vs PSS

Mampu menguasai dan memrogresi bola cukup baik saat melawan Bhayangkara FC, Super Elja justru kembali kesulitan mendapatkan kenyamanan untuk mengalirkan bola.

Selain komposisi pemain yang berbeda dari pertandingan sebelumnya, cara bermain yang juga berbeda membuat Super Elja terlihat kesulitan untuk mengalirkan bola dengan nyaman sampai sepertiga akhir.

Menghadapi Pendekar CIsadane yang bertahan struktur 14231, penggawa Super Elja kesulitan mengalirkan bola ke depan dengan nyaman. Pada laga ini, salah satu caranya adalah dengan Aaron Evans yang turun di antara dua stopper untuk membentuk tiga bek.

Tidak ada yang salah dengan cara ini andai perubahan posisi atau rotasi oleh pemain lain juga dilakukan, sehingga koneksi untuk mengalirkan bola ke depan tidak terputus.

Gambar 2. Salah satu struktur bangun serangan PSS menghadapi pressing Persita

Namun, hal ini tidak terjadi. Selain menjadi kalah jumlah di tengah, akibat lainnya adalah koneksi untuk mengalirkan bola menjadi hilang.

Lini belakang tidak memiliki opsi umpan ke depan yang menguntungkan. Semua pemain dalam penjagaan lawan. Pemain yang menerima umpan menjadi selalu dalam keadaan mendapatkan pressure dan tidak nyaman menghadap depan untuk melakukan progresi bola ke depan.

Usaha lain yang Laskar Sembada coba juga kurang berjalan baik dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Manahan tersebut.

Kim sering mengisi ruang apit di sebelah dua stopper untuk memberikan opsi umpan dan menjauh dari pressure lawan. Mirip dengan yang terjadi pada laga sebelumnya, tetapi terdapat detail yang membuat hal ini kurang berjalan dengan baik.

Gambar 3. Usaha lain yang dilakukan PSS saat membangun serangan dan masalah yang terjadi

Saat Kim melakukan perubahan posisi, pemain lain tidak mengikutinya untuk mendapatkan struktur yang lebih nyaman untuk mengalirkan bola. Timing dan arah perubahan posisi yang tidak sesuai yang dilakukan oleh pemain lain kembali membuat PSS kehilangan koneksi untuk memrogresi bola.

Tidak ada pemain yang menjadi opsi umpan yang dalam keadaan nyaman untuk memrogresi bola. Hal ini membuat seolah lini tengah Super Elja tidak berjalan dengan baik.

Dalam kondisi seperti di atas, salah satu solusi yang dilakukan oleh Kim dan kawan-kawan adalah dengan melepaskan umpan diagonal ke salah satu area sayap. Umumnya umpan diagonal akan dilepaskan ke Bagus di sisi kanan.

Beberapa kali, kapten Laskar Sembada tersebut mampu menerima umpan dalam keadaan bebas untuk meneruskan serangan ke pertahanan Persita.

Namun, setelah beberapa kali berhasil, Persita mampu mengantisipasinya dengan Irsyad yang memosisikan diri lebih rendah. Terutama setelah gawang Miswar kebobolan oleh Kito Chandra.

Gambar 4. Bola diagonal sebagai opsi progresi bola PSS dan antisipasi Persita

Sebenarnya serangan PSS tidak selalu gagal. Terdapat beberapa momen yang berhasil memecah organisasi bertahan Persita, tetapi masih gagal membuahkan hasil saat masuk sepertiga akhir. Selain itu, Super Elja juga tidak mengeksekusi beberapa cara ini secara konsisten.

Salah satu skema yang sukses adalah saat rotasi di sisi kiri dilakukan dengan timing yang pas. Dalam skema tersebut, Derry mengambil posisi yang lebih tinggi saat Fitra bergerak turun ke ruang apit.

Sementara itu, Mila menjadi koneksi dengan posisi yang lebih rendah dan lebih ke tengah. Kim yang berada di ruang antar lini menggantikan peran Mila dalam menjaga kelebaran. Pergeraka Kim membuat Maitimo mengikutinya.

Akibatnya, ruang tengah Persita terbuka lebar. Mila yang mampu menerima bola dan melewati pemain yang menjaganya mendapat ruang yang luas untuk membawa bola ke depan. Sayang, pergerakan di lini depan kurang maksimal sehingga gagal berbuah peluang bagi Super Elja.

Gambar 5. Skema rotasi PSS saat membangun serangan

Tidak adanya rencana yang jelas di kepala pemain sepertinya membuat chemistry di antara mereka menjadi terganggu. Akibatnya, konsistensi permainan menjadi susah untuk didapatkan.

Juninho yang tampil apik sebagai gelandang di pertandingan sebelumnya justru tidak banyak terlibat saat bermain sebagai penyerang. Hal ini membuat lini tengah PSS seolah buntu untuk mengalirkan bola ke depan.

Mengutarakan kekecewaan kepada pemain dalam sesi konferensi pers pascalaga tidak akan membuahkan hasil apapun tanpa adanya oleh pencarian solusi atas masalah yang terjadi di lapangan.

Selain itu, selama masih berkostum Laskar Sembada, seluruh pemain juga harus siap memberikan yang terbaik di lapangan.

Komentar

Comments are closed.