Analisis

Review PSM Makassar vs PS Sleman: Kurang Sempurna Tutup Ruang Tengah

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Laga perdana Shopee Liga 1 musim 2020 dilalui dengan kurang baik oleh PS Sleman. Super Elang Jawa yang sempat memperkecil kedudukan di menit ke-73 gagal menyamakan kedudukan atas tuan rumah, PSM. Bagus Nirwanto dan teman-teman harus mengakui keunggulan Juku Eja dengan skor akhir 2-1.

Belum datangnya Dejan Antonic untuk mendampingi tim membuat Suwandi untuk sementara memegang kendali dari pinggir lapangan. Mantan pelatih kepala Persiba Bantul ini menggunakan formasi 14231 untuk pertandingan pertama Liga 1.

Ega Rizky mengawal gawang di belakang kuartet Bagus Nirwanto, Aaron Evans, Asyraq Gufron, serta Arthur Irawan. Guilherme Batata dan Wahyu Sukarta yang menempati pos double pivot berdiri di belakang Fitra Ridwan sebagai gelandang serang. Trio lini depan diisi oleh Irfan Bachdim, Yevhen Bokhashvili, dan Jefri Kurniawan.

Gambar 1. Sebelas Pertama PSM Makassar vs PS Sleman

Sempat diprediksi akan bermain dengan double pivot yang berdiri sejajar di depan backline, pelatih PSM, Bojan Hodak, justru mainkan formasi 1442 diamond. Hilman Syah sebagai penjaga gawang, dilindungi backline yang berisi Asnawi Bahar, Hussein El Dor, Serif Hasic, dan Leo Guntara. Duet Ferdinand Sinaga dan Giancarlo Rodriguez ditopang oleh kuartet lini tengah diisi oleh Muhammad Arfan, Rizky Pellu, Ezra Walian, serta Wiljan Pluim.

Situasi Menang Jumlah Pemain

Dari tumbukan formasi 1442 diamond vs 14231, secara natural terjadi situasi menang jumlah atau overload di beberapa area lapangan. Super Elja unggul jumlah pemain 2v1 di ruang samping kanan dan kiri. Sedangkan Pasukan Ramang unggul jumlah pemain 2v1 di belakang dan 4v3 di tengah. Kemenangan PSM sangat dipengaruhi oleh situasi tersebut.

Gambar 2. Situasi Menang Jumlah di Area Lapangan

Anak asuh Bojan Hodak mampu memaksimalkan situasi keunggulan jumlah pemain di ruang tengah dengan cukup baik. Bermain di Stadion Andi Mattalata, PSM langsung mendominasi permainan. Tim kebanggaan masyarakat Makassar ini selalu memulai serangan secara konstruktif dari bawah.

Terdapat sedikit transposisi yang dilakukan oleh PSM saat membangun serangan. M. Arfan akan turun sejajar dengan dua stopper untuk membantu progresi bola saat membangun serangan. Akibatnya, Yehven selalu berada dalam situasi 1v3 atau 2v3 jika Fitra ikut memberi tekanan lawan di lini terdepan.

Situasi menang jumlah ini dimanfaatkan dengan baik oleh PSM untuk progresi bola ke depan. Hasic, El Dor, dan M. Arfan memiliki kemampuan menyerang yang amat baik. Sirkulasi diantara ketiganya selalu membuat Yehven dan Fitra menjadi out of play.

Setelah bangun serangan fase pertama sukses, PSM makin dominan untuk memprogresi bola ke pertahanan PS Sleman. Salah satu dari Pellu, Ezra, dan Pluim selalu terakses melalui umpan vertikal atau diagonal dari lini pertama. Selain itu, Jefri dan Bachdim juga sering berorientasi pada Asnawi dan Leo pada fase awal bangun serangan lawan menjadikan PSM semakin mudah mengalirkan bola ke depan.

Dua gol PSM selalu bermula dari suksesnya Pluim dan kawan-kawan memaksimalkan situasi di ruang tengah ini. Pada gol pertama, Asnawi berhasil mengirimkan umpan diagonal kepada Pluim di ruang antar lini. Selanjutnya permainan kombinasi antara Pluim dan Ferdinand memaksa Gufron harus melakukan pelanggaran di depan kotak penalti. Terbukanya akses umpan ke Pluim di ruang antar lini tidak lepas dari peran Pellu yang berhasil menarik Wahyu Sukarta keluar dari posisinya.

Gambar 3. Proses Gol Pertama PSM

Asnawi kembali berperan bagi PSM pada gol kedua. Wahyu Sukarta dan Batata yang terlalu berorientasi pada Pellu dan Pluim membuat munculnya ruang kosong di area tengah. Asnawi yang memanfaatkan area kosong tersebut dengan akselerasinya harus dihentikan dengan pelanggaran oleh Wahyu, setelah Batata berhasil terlewati.

Gambar 4. Proses Gol Kedua PSM

Sebenarnya, Super Elja mampu memberikan cukup perlawanan di ruang tengah ini, terutama saat Jefri atau Bachdim memposisikan diri sedikit ke dalam (ke ruang apit) untuk membantu melindungi area tengah. Kompaksi yang terjaga ini memudahkan dalam melakukan pressing. Hal ini dibantu juga oleh permainan PSM yang terlalu fokus menyerang melalui ruang tengah dan kurang memaksimalkan kedua fullback-nya untuk melakukan overlap. Mekanisme ini tidak dilakukan secara konsisten.

Catatan lain yang perlu menjadi perhatian adalah gagalnya PSS memanfaatkan keunggulan jumlah pemain di ruang samping. Situasi ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh tim tamu untuk melakukan serangan. PSM memang unggul di tengah, tetapi sebagai konsekuensi Super Elja mendapatkan situasi 2v1 di ruang samping. Bagus dan Bachdim atau Arthur dan Jefri hanya tinggal berhadapan dengan Leo atau Asnawi.

Bagus beberapa kali aktif melakukan overlap untuk membantu teman-temannya melakukan serangan, walaupun tidak terlalu sering. Di sisi kiri, Arthur terlihat pasif untuk membantu Jefri atau Bachdim untuk memaksimalkan situasi 2v1 ini. Selain itu, tidak adanya mekanisme yang jelas untuk memindahkan serangan dari satu sisi ke sisi yang lain juga membuat serangan PSS mudah diantisipasi oleh lawan.

Perjalanan memang masih panjang. Tetapi perjuangan harus selalu dimulai dari langkah pertama. Akan selalu ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan dan diselesaikan sebelum pertandingan selanjutnya. Perbaikan dan peningkatan penampilan menjadi hal yang wajib bagi PS Sleman.

Komentar
Dani Rayoga

Football Addict | Physics Lovers | @DaniBRayoga

Comments are closed.