Analisis

Review PSS Sleman vs Arema FC: Kemenangan Berharga di Laga Perdana

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Liga 1 2019 resmi dibuka dengan pertandingan antara PSS vs Arema FC. Pertandingan yang digelar di Stadion Maguwoharjo itu berakhir dengan skor 3-1, untuk kemenangan tuan rumah. Gol PSS dicetak oleh Brian Fereirra, Yevhen Bokhsasvili, dan Rangga Muslim, satu gol Arema dicetak oleh Sylvano Comvalius.

Sebelum pertandingan dimulai, banyak pihak yang memprediksi Arema FC akan menang mudah di pertandingan ini. Hal yang lumrah karena Singo Edan menyandang status sebagai juara Piala Presiden, sedangkan lawannya hanyalah tim promosi.

Sejak awal pertandingan kedua tim langsung menurunkan pemain terbaik mereka. PSS dengan pakem 4-1-4-1, menurunkan 3 bek senior Jajang, Purwaka Yudhi, dan Alfonso untuk menemani Bagus Nirwanto. DI lini tengah, Nerius Alom langsung dipercaya mengisi gelandang bertahan. Dave dan Brian mengisi lini tengah, menopang Haris Tuharea, Arsyad dan Yevhen di lini serang.

Arema menggunakan formasi 4-2-3-1, Hamka, Arthur, Alfarizie, dan Alfin di lini belakang. Jayus dan Hendro difungsikan sebagai double pivot menopang Makan Konate di posisi gelandang serang. Dendi Sulistiawan, dan Kayame di sisi sayap, Comvalius langsung dipercaya sejak awal menjadi juru gedor tim.

Satu hal menarik adalah baik PSS maupun Arema hanya menurunkan 3 pemain asingnya. PSS tanpa diperkuat Batata karena mengalami cidera ringan, sedangkan Arema tidak memasukkan Pavel Smolyachenko.

PSS mendapatkan keuntungan dengan mencetak gol di menit awal babak pertama. Gol dari Brian memanfaatkan tendangan sudut, gagal diantisipasi oleh Kartika Ajie. Gol itu membuat para pemain PSS terlepas dari beban berat dan bermain lebih lepas. Walau begitu, selepas gol cepat, Arema bermain lebih spartan dan tampil menekan.

Sepanjang setengah jam pertama, lini pertahanan PSS mendapatkan gempuran bertubi-tubi dari barisan penyerang Arema. Dendi, Konate, Comvalius bergantian membahayakan gawang PSS. Keputusan para pemain PSS untuk menerapkan blok pertahanan rendah adalah hal yang tepat.

Para pemain menunggu lawan melakukan kesalahan untuk kemudian menguasai bola. Walau begitu, ada beberapa momen dimana pemain PSS tertarik oleh pergerakan pemain Arema sehingga menghasilkan ruang kosong di area yang ditinggalkannya. Hal ini kerap terjadi di area bermain Bagus Nirwanto dan Jajang Sukmara. Proses gol Arema juga berasal dari situasi ini, dimana pemain Arema dengan bebas mengirimkan umpan matang kepada Comvalius.

Ketika PSS berhasil menguasai bola, para pemain PSS kesulitan membuat progresi vertikal. Proses build up pendek dari belakang sudah diantisipasi oleh para pemain Arema dengan melakukan pressing sejak berada di pertahanan PSS. Selain itu, gelandang PSS juga terlihat tidak pede saat melakukan keeping bola, ketika menerima bola, akan langsung dikembalikan ke belakang. Hal ini membuat Purwaka Yudi dan Alfonso de la Cruz tidak punya pilihan lain selain melambungkan bola langsung ke depan.

Pertandingan sempat dihentikan karena ada kerusuhan di atas tribun. Momen inilah yang menjadi titik balik permainan. Arema sedang mendapatkan momentum, dan PSS sedang dalam keadaan tertekan. Namun setelah pertandingan dilanjutkan kembali, keadaan berubah 180 derajat.

PSS bermain lebih tenang setelah pertandingan dilanjutkan, sedangkan fokus para pemain Arema sedikit terganggu. Pressing apik yang ditunjukkan di awal babak pertama tidak lagi diperlihatkan pemain Arema. Hal ini dimanfaatkan oleh para gelandang PSS. Mereka lebih nyaman dalam menguasai bola, dan membangun serangan. Terbukti dalam 10 menit terakhir babak 1, PSS memiliki 3 peluang emas lewat kaki Brian dan Yevhen.

Memasuki babak kedua, tidak ada perubahan strategi dari kedua tim. Begitu juga jalannya pertandingan di lapangan. PSS makin tenang dalam menguasai bola, sedangkan Arema kesulitan keluar dari tekanan.

Brian yang pada pertandingan pra musim tidak dapat menunjukkan performa gemilang, malah tampil kesetanan. Dia mampu menjalankan fungsinya sebagai gelandang serang dengan baik, dia juga bisa menjalin kerjasama dengan para pemain lainnya. Walau begitu, Brian masih belum maksimal ketika mengatur sebuah serangan balik cepat.

Keputusan berani diambil oleh Coach Seto ketika melakukan pergantian pemain. Setelah unggul 2-1 lewat gol Yevhen, Seto melakukan pergantian dengan memasukkan Yudho dan menarik Arsyad. Selain itu dia juga menukar Tuharea dengan Rangga.
Sebuah keputusan berani karena saat posisi tim unggul, Seto malah memasukkan 2 pemain dengan tipikal menyerang dibandingkan memperkuat pertahanannya. Terlebih disaat itu, Arema sedang meningkatkan tempo permainan guna mengejar ketertinggalan.

Ternyata, keputusan yang berdampak positif bagi permainan. Yudho dengan kecepatannya mampu membuat lini belakang Arema kewalahan. Arek Ngalam ini langsung mendapatkan 2 kesempatan emas walau tidak berbuah gol. Masuknya Yudho mengirimkan sinyal tanda bahaya kepada pemain belakang Arema. Hal ini membuat mereka berpikir 2 kali untuk melakukan overlap.

Masuknya Yudho sekaligus menjadi perubahan taktik PSS. Skema serangan balik cepat coba diperagakan, dengan Yudho sebagai target man di sayap kanan. Ketika PSS menguasai bola, Yudho akan langsung berlari ke depan. Namun beberapa kali, momen untuk melancarkan serangan balik gagal dijalankan akibat salah pengertian antara Yudho dengan pemain lainnya.

Pertandingan ini juga menjadi arena pembuktian bagi pemain yang mendapat sorotan tajam di pra musim. Alom, Brian, dan Yevhen sempat menjadi bulan-bulanan karena gagal menunjukka performa impresif. Kenyataannya ketiga pemain ini membuktikan diri dan menjadi aktor kunci kemenangan PSS.

Alom sebagai gelandang bertahan sukses menjinakkan Makan Konate dan menjadi filter dari setiap serangan Arema. Brian menjalankan fungsinya sebagai metronom lini tengah dengan baik. Satu gol dan dua assist adalah bukti sahihnya.

Diluar itu semua, PSS masih harus berbenah untuk bisa memaksimalkan proses serangan balik. PSS bisa belajar dari cara Arema melancarkan serangan balik cepat, dengan Konate sebagai aktornya.

Pada akhirnya, kemenangan perdana di Liga 1 adalah sesuatu yang sangat berarti. Selain menaikkan moral para pemain, juga memberikan sinyal pada tim – tim lain bahwa Super Elja tidak bisa dipandang sebelah mata.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad

Comments are closed.