Analisis

Review PSS vs Persela: Gagal Bongkar Pertahanan Lawan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

PS Sleman masih tanpa kemenangan dalam lanjutan Piala Menpora 2021. Pada pertandingan kedua, anak asuh Dejan Antonic bermain imbang dengan skor 0-0 melawan Persela. Menguasai penguasaan bola ternyata masih belum cukup bagi PSS untuk menciptakan banyak peluang mencetak gol.

Dengan formasi yang sama, 1-4-2-3-1, Dejan melakukan beberapa perubahan susunan pemain dibandingkan dengan pertandingan sebelumnya.

Di lini belakang, Asyraq Gufron digantikan oleh Mario Maslac dan Arthur Irawan menggantikan Derry Rachman. Raffi Angga digantikan oleh Irfan Bachdim di depan. Di lini tengah, peran gelandang serang diisi oleh Ocvian Chanigio dan Aaron Evans menggantikan Wahyu Sukarta.

Sementara itu, Persela juga bermain dengan formasi 1-4-2-3-1. Pos kiper diisi oleh Dwi Kuswanto. Eky Taufik, Demerson, M. Zaenuri, dan Birrul Walidain mengisi pos lini belakang.

Trio gelandang diisi oleh Syahroni, Ahmad Bustomi dan Adrianus Dwiki. Di lini depan, Juru gedor, Janneth Kamare, diapit oleh Riyatno Abiyoso dan Malik Risaldi.

Gambar 1. Sebelas Pertama Madura United vs PSS
PSS Gagal Bongkar Pertahanan Rapat Persela

Pada saat bertahan, Persela menggunakan formasi 1442, dengan Janneth dan Dwiki sebagai lini pressure pertama. Dengan blok bertahan rendah, Laskar Joko Tingkir mencoba mencegah lawan untuk mengalirkan bola melalui ruang tengah. Pemain lawan yang berada di ruang tengah akan mendapat penjagaan ketat.

Gambar 2. Struktur bertahan Persela

Lalu bagaimana Bachdim dan kawan-kawan mencoba untuk membongkar pertahanan Persela? Cara pertama yang dilakukan penggawa Super Elja adalah dengan melakukan rotasi posisi di ruang sayap.

Hal itu dimulai dengan Evans atau Kim yang mengambil posisi rendah untuk membantu proses bangun serangan. Situasi tersebut membuat Arthur dan Munyeng bisa mengambil posisi yang lebih tinggi dan kedua sayap, Irkham dan Irja, mengambil posisi di halfspace.

Pada praktiknya, cara itu kurang berjalan efektif untuk menembus pertahanan lawan. Terdapat beberapa hal yang menyebabkannya.

Dari faktor lawan, pressing agresif dari para pemain Persela sering membuat anak asuh Dejan kesulitan untuk menerima bola dan menghadap ke gawang lawan. Akibatnya, progresi bola ke depan menjadi terganggu.

Selain itu, skema bertahan Persela untuk mengatasi wide rotation tersebut juga cukup baik. Saat Irja atau Irkham masuk ke ruang apit (halfspace), pemain sayap Persela yang mencoba menutup jalur umpannya. Fullback Persela, Eky Taufik dan Birrul, bersiap melakukan pressing ketika bola diumpan ke ruang sayap.

Gambar 3. Skema bertahan Persela untuk antisipasi wide rotation yang dilakukan oleh PSS

Dari faktor tim, hal yang membuat PSS kesulitan untuk menciptakan peluang adalah kurangnya usaha untuk memecah blok pertahanan Persela yang sangat rapat di ruang tengah. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan sirkulasi cepat atau perubahan arah serangan (switch play).

Dengan melakukan sirkulasi cepat, akan ada celah yang bisa digunakan untuk progresi ke depan. Celah ini muncul akibat dari perbedaan kecepatan tiap pemain saat harus bergeser dalam blok bertahan menyesuaikan posisi bola.

Cara tersebut kurang dimaksimalkan oleh Fabiano Beltrame dan kolega. Hal itu terlihat dari usaha crossing yang dilepaskan pemain saat lini belakang lawan sudah dalam posisi siap untuk antisipasi.

PSS seolah tergesa-gesa ingin memasukkan bola ke dalam kotak penalti lawan, padahal kondisi belum menguntungkan.

Gambar 4. Sirkulasi horizontal atau switch play cepat yang bisa digunakan untuk memecah blok bertahan lawan

Faktor lain, umpan yang diberikan kepada Munyeng atau Arthur yang menajga kelebaran sering kurang efisien. Umumnya, bola diumpan oleh stopper dengan jarak antar keduanya cukup jauh.

Panjangnya jarak itu membuat waktu tempuh bola menjadi sedikit lambat. Akibatnya, fullback lawan akan lebih mudah mengantisipasinya.

Masalah tersebut muncul diakibatkan oleh masalah yang lain. Evans atau Kim sering kesulitan untuk melepaskan diri dari penjagaan lawan dan menyiapkan dirinya sebagai opsi umpan yang bisa menghadap ke depan. Hal itu terlihat terutama di babak pertama.

Pada babak kedua, masalah koneksi di lini tengah tersebut sudah bisa sedikit teratasi. Terutama setelah Nico Velez masuk dan meningkatnya penampilan Evans sebagai gelandang. Gelandang – gelandang PSS sudah lebih bisa menerima bola dalam keadaan bebas dan menghadap ke depan.

Namun, serangan Super Elja tetap belum maksimal pada babak kedua akibat munculnya masalah yang baru. Saat menguasai bola, sering tidak ada pemain yang menjaga kedalaman. Bachdim, Irja, dan Arsyad lebih sering berada bersamaan di ruang antar lini.

Hal itu memudahkan lini belakang Persela untuk mengantisipasi serangan PSS. Lini belakang Persela selalu bisa melihat bola dan lawan secara bersamaan. Selain itu, mereka bisa dengan mudah mempersempit jarak antara lini belakang dan lini tengah.

Gambar 5. Masalah dan situasi yang akan muncul saat tidak ada pemain yang menjaga kedalaman. Tanpa ada pemain yang menjaga kedalaman, ruang antar lini menjadi sempit. Dengan terdapat pemain yang menjaga kedalaman, ruang antar lini lebih lebar.

PS Sleman mungkin memang belum berhasil memenangkan pertandingan di turnamen pramusim. Namun, bukankah itu tujuan adanya ajang itu, untuk melihat masalah yang masih dimiliki oleh tim hingga masing-masing individu. Sekarang tinggal bagaimana Dejan dan kolega untuk mencari solusinya.

Komentar

Comments are closed.