Analisis

Review PSS vs Persija: Adu Serangan di Ruang Sayap

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Liga 1 secara resmi berjalan pada 27 Agustus 2021. Kerinduan terhadap PS Sleman pun akhirnya dapat terobati. Pada pertandingan pertama, para penggawa Super Elja berhadapan dengan Persija.

Berkat kerja keras Irfan Jaya dan kawan-kawan, PSS berhasil menyamakan kedudukan dan mengakhiri pertandingan dengan skor 1-1.

Pada pertandingan perdana ini, Dejan Antonic menurunkan formasi 14231. Bersama Ega Rizky, Bagus Nirwanto, Asyraq Gufron, Mario Maslac dan Arthur Irawan mengawal lini belakang.

Di lini tengah, Aaron Evans dan Kim Jeffry menopang kerja Irfan Bachdim yang berperan sebagai gelandang serang. Irfan Jaya dan Irkham Mila mengapit Arsyad Yusgiantoro sebagai ujung tombak serangan PSS.

Sementara itu, Persija bermain dengan formasi 1442. Pos kiper diisi oleh Andritany Ardhiyasa. Marco Motta, Otavio Dutra, Yann Motta, dan Rezaldi Hehanusa mengisi pos lini belakang.

Di tengah, Tony Sucipto dan Rohit Chand diapit oleh dua pemain sayap cepat, Osvaldo Haay, dan Riko Simajutak. Marko Simic berduet dengan penyerang muda, Taufik Hidayat, di lini serang.

Gambar 1. Sebelas Pertama PSS vs Persija
PSS Andalkan Pemain Sayap

Dari tumbukan formasi 14231 vs 1442, secara natural terjadi situasi menang jumlah atau overload di beberapa area lapangan. Macan Kemayoran unggul jumlah pemain 2v1 di belakang.

Sementara itu, Super Elja unggul jumlah pemain 3v2 di ruang tengah. Namun, anak asuh Dejan memilih cara lain untuk menyerang pertahanan Persija.

Gambar 2. Tumbukan formasi dan situasi menang jumlah yang tercipta secara natural

Lalu bagaimana Bachdim dan kawan-kawan mencoba untuk membongkar pertahanan Persija? PSS mencoba mengandalkan kemampuan pemain sayapnya, Irkham dan Irja.

Hal ini membuat serangan yang dibangun Maslac dari bawah sering ditujukan ke ruang sayap. Untuk memaksimalkan kemampuan 1v1 Irja atau kecepatan Irkham.

Pada momen bertahan, Persija tetap dengan struktur 1442. Salah satu cara PSS untuk memecah blok bertahan 1442 yang dibangun oleh Macan Kemayoran adalah menggunakan switch play melalui bola diagonal oleh Maslac.

Untuk memaksimalkan cara itu, umumnya Bachdim dan Evans atau Kim mengambil posisi di depan lini tengah Persija. Hal tersebut dilakukan untuk memancing salah satu dari gelandang Persija sehingga saat dilakukan perpindahan arah serangan diharapkan ada keterlambatan gelandang Persija untuk bergeser.

Keterlambatan tersebut kemudian akan dimanfaatkan oleh Irja dan Irkham untuk langsung melakukan serangan melalui area sayap dalam situasi 1v1 dengan Rezaldi atau Motta.

Dengan Kim dan Evans atau Irfan yang mengcover ruang tengah, Bagus dan Arthur bisa membantu kedua pemain sayap Super Elja tersebut melalui overlap atau underlap.

Gambar 3. Skema switch play PSS untuk memaksimalkan serangan dari ruang sayap

Cara kedua yang digunakan PSS untuk menyerang pertahanan Persija lewat ruang sayap adalah melalui serangan balik. Pada momen bertahan, terdapat perubahan struktur yang dilakukan oleh Dejan.

PSS bertahan dengan struktur 1442, dengan Bachdim dan Arsyad sebagai lini pressure pertama. Bermain bertahan dalam blok menengah, PSS berusaha membatasi opsi umpan yang dimiliki oleh Persija.

Bachdim dan Arsyad menutup opsi umpan ke gelandang lawan sambil mencoba mencari momen untuk melakukan pressing pada stopper Persija yang membawa bola.

Irkham dan Irja membayangi Motta dan Rezaldi sambil mencoba menutup opsi umpan ke ruang antar lini. Sedangkan Evans dan Kim bertugas melindungi ruang antar lini.

Dengan terbatasnya opsi umpan, diharapkan lawan melakukan kesalahan saat melepaskan umpan. Jika hal ini terjadi, serangan balik siap dilakukan ke ruang-ruang yang tersedia di lini belakang Persija yang sedang dalam keadaan kurang terorganisasi.

Umumnya, ruang yang coba di manfaatkan adalah ruang di belakang fullback Persija. Dalam eksekusinya, Evans dan kawan-kawan bisa langsung mengirim bola ke ruang tersebut atau mengganti arah serangannya ke ruang sayap sisi jauh.

Gambar 4. Skema serangan balik PSS dengan memanfaatkan ruang sayap

Namun, cara bertahan yang coba diterapkan oleh PSS bukan tanpa celah. Persija yang juga coba mengandalkan ruang sayap beberapa kali mampu menembus pertahanan Super Elja.

Sedikit berbeda dengan yang dilakukan oleh PSS, Macan Kemayoran mencoba menggunakan ruang sayap untuk merusak organisasi lini belakang Laskar Sembada.

Mekanisme pertama yang sering dilakukan Persija adalah dengan mengakses Riko yang bergerak ke ruang apit (halfspace) dari ruang sayap. Sering teraksesnya Riko ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, posisi Irkham yang terlalu dekat dengan Motta membuat akses umpan ke Riko terbuka.

Selain itu, Evans yang sering terlalu berorientasi pada Rohit juga membuat Riko nyaman mengalirkan bola ke Motta di ruang sayap atau bahkan ke Taufik atau Simic di ruang antar lini.

Berbeda denga Riko yang sering bergerak ke ruang apit, Osvaldo di sisi sayap yang lain lebih banyak beroperasi di ruang sayap. Bagus yang sering terlalu cepat memberikan pressure pada Osvaldo membuat ruang di belakangnya rawan dimanfaatkan oleh lawan.

Macan Kemayotan memanfaatkan hal ini dengan dua cara. Simic yang bergerak ke ruang yang ditinggalkan tersebut atau Osvaldo yang mengubah arah larinya ke ruang tersebut setelah Bagus bergerak ke arahnya.

Gambar 5. Celah pada blok pertahanan PSS yang berhasil dimanfaatkan Persija untuk memrogresi serangan

Laskar Sembada memang gagal mempersembahkan kemenangan di pertandingan pertama. Namun, perjuangan para pemain juga tidak berakhir mengecewakan. Modal yang cukup dimiliki oleh PSS untuk meningkatkan performa sebelum laga selanjutnya demi poin tiga perdana di Liga 1 musim ini.

Komentar

Comments are closed.