Opini

Romantisme Seto, Suporter, dan PS Sleman

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Dedikasi dan cinta

Kujaga kukorbankan

Waktu dan tenaga

Hanya tuk Super Elja

Lirik tersebut merupakan penggalan lagu dari Silhouette Sunrise yang berjudul Jangan Pernah Menyerah. Menggambarkan segala dedikasi yang telah dilakukan untuk sang kebanggaan, PS Sleman. Itulah yang sedang terjadi dan akan terus terjadi disini, di Kabupaten Sleman ini.

Putaran pertama Shopee Liga 1 2019 sudah kita lewati, tentunya banyak peristiwa yang menjadi memori tak terlupakan. Rasa suka dan duka diatas rumput hijau bahkan sampai drama dibalik layar PSS telah terjadi.

Itu semua menjadi bagian dari penyempurnaan Super Elja menuju level yang lebih tinggi. Segala unsur baik dari suporter, pemain, pelatih, dan manajemen berkontribusi mengawal PSS mengarungi musim ini.

Kita ketahui bersama musim ini adalah tahun pertama PSS bermain dikasta tertinggi sepakbola Indonesia, setelah terakhir kali pada tahun 2007. Hasil pertandingan pun tidak terlalu mengecewakan jika dilihat dari komposisi pemain yang ada.

Untuk tahun ini, PSS memiliki market value yang kecil jika dibandingkan dengan klub-klub lain di Liga 1. Lantas muncul pertanyaan apakah itu jaminan PSS hanya akan numpang lewat di Liga 1? Jawabannya sudah jelas, TIDAK!

Terbukti selama paruh musin ini PSS mampu berkibar dipapan atas klasemen sementara. Secara permainan pun mampu menandingi bahkan memperolah kemenangan dari beberapa klub berpengalaman di Liga 1. Semua itu berkat sinergi berbegai unsur yanga ada di PSS itu sendiri.

Salah satu unsur penting PSS yang menjadi sorotan berbagai media saat ini adalah sang allenatore, Seto Nurdiyantoro. Berkat racikan strategi beliau PSS mampu mengalahkan beberapa tim berpengalaman di Liga 1. Romantisme Coach Seto terhadap PSS merupakan rasa cinta beliau terhadap tim tanah kelahirannya ini.

Segala bentuk dedikasi yang telah dilakukan merupakan wujud rasa cinta tak beralasan. Ketika cinta itu beralasan maka hanya akan melihat kelebihan atau sesuatu yang menarik saja, sedangkan hal buruk tidak akan diterima dengan setulus hati. Cinta tak beralasan akan menerima apapun kondisinya baik buruk keadaanya.

Masih teringat, kala itu laga kandang PSS melawan Barito Putera. Laga tersebut tidak berakhir dengan kemenangan untuk PSS melainkan hanya seri 2-2. Gol untuk PSS tercipta dari penalti Brian Ferreira dan sepakan Yevhen Bokhashvili.

Tapi jika merunut kebelakang, laga ini merupakan sebuah laga kebangkitan PSS setelah menelan 2 kekalahan telak dari PSIS dan Bali United. Laga itu membangkitkan kembali sebuah api semangat yang sempat redup.

Beberapa hari sebelum laga melawan Barito Putera, Coach Seto pernah mengutarakan niatnya untuk resign sebagai pelatih PS Sleman. Respon terutama dari suporter PSS muncul, lewat tagar #InSetoWeTrust sebagai dukungan kepada Coach Seto untuk tetap bertahan sebagai pelatih PSS.

Wajar suporter menyuarakan demikian karena suporter percaya kepada Coach Seto dapat membawa tim ini lebih maju. Tidak hanya dukungan lewat dunia maya saja, tapi wujud dukungan nyata juga ditunjukkan lewat koreografi Brigata Curva Sud.

“Sejujurnya dari dalam hati, saya mencintai tim ini. Saya mencintai supporter. Tapi apapun nanti keputusan saya, yang pasti tujuan keputusan saya karena saya mencintai tim ini,” ungkapan Coach Seto setelah laga itu.

Tanpa mengesampingkan rasa cinta dari teman-teman suporter, cinta Coach Seto pada PSS merupakan sebuah romantisme sejati dalam sepakbola. Coach Seto menerima apapun kondisi PSS yang sedang terjadi dan tetap bertahan di tim ini.

Dengan keterbatasan pemain yang ada di klub membuat keleluasaan membangun strategi menjadi terganggu, seperti pada beberapa laga yang sudah dijalani PS Sleman.

Selain itu sebagai tim promosi, target untuk bisa bertahan di Liga 1 tentu cukup berat. Namun, kembali lagi, tidak ada yang tidak mungkin. Disituasi seperti itu hanya cinta yang mampu menguatkan sampai langkah untuk terus maju.

Teringat kala itu Cak Nun dalam BCS Sinau Bareng sebelum dimulainya musim lalu. Seketika beliau bertanya “Kenapa kamu cinta PSS?” Sebuah retoris muncul dan dengan sekejap dijawab “Karena PSS”.

Semoga inilah yang terjadi saat ini dan mungkin seterusnya, rasa cinta tanpa alasan ataupun pada PSS harus dipupuk. Seberapa hebat ataupun seburuk apapun kondisi harus tetap dijalani dan dihayati. Segala unsur PSS harus mengawal tim ini sesuai porsi dan kemampuan masing-masing, dilandasi dengan cinta.

Cinta pada PSS akan menghasilkan sebuah dedikasi pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi PSS Super Elang Jawa. Tentu saja tidak lupa tetap iringi PSS dengan lantunan doa.

Komentar

Comments are closed.