Opini

Sebatas Layar Kaca untuk Laskar Sembada

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Memenuhi bangku–bangku di setiap stadion telah menjadi kebiasaan bagi mayoritas pendukung klub sepak bola di Indonesia. Tidak terkecuali bagi para pecinta PS Sleman.

Tak perlu membuat pengakuan diri. Hampir seluruh pecinta sepak bola Indonesia mengamini bahwa dalam satu dasawarsa belakang ini, Sleman Fans hampir selalu menyesaki tribun stadion.

Tidak hanya ketika Super Elja melakukan pertandingan di kendang. Di luar laga yang diselenggarakan di Maguwuharjo pun, para pendukung setianya selalu mengikuti mereka ketika berlaga.

Mulai dari Aceh hingga Jayapura, sudah tak terhitung lagi berapa banyak langkah pendukung Laskar Sembada yang menginjak pintu masuk stadion-stadion di Indonesia tersebut.

Jika ditanya data dan fakta, mungkin contoh paling mudah adalah ketika PSS melakoni laga final Liga 2 pada akhir 2018. Tercatat lebih dari 20.000 pasang mata penggemar Super Elja menyaksikan secara langsung pertandingan melawan Semen Padang tersebut.

Ada selentingan yang mengatakan bahwa jumlah bukanlah segalanya, kualitas juga memiliki peran yang penting. Namun, Sleman Fans tak gagal juga soal itu. Gemuruh di stadion yang bertujuan merangsang semangat Bagus Nirwanto dan kolega sukses bergema.

Segala hal itu sebagian besar sudah mampu dijawab dengan baik. Tetapi, tantangan datang di saat pandemi terjadi, apakah kita sebagai suporter PSS mampu mereplikasi kualitas tersebut dengan cara mendukung yang berbeda?

Setelah hampir satu tahun libur untuk menyaksikan tim kebanggaanya berlaga, para peendukung tampaknya harus kembali menahan dahaga untuk berteriak memberi dukungan pada Laskar Sembada.

Kondisi itu disebabkan oleh pagebluk yang tak kunjung usai, memaksa regulasi Piala Menpora 2021 melarang hadirnya penonton di stadion.

Dalam situasi tersebut, jangankan untuk berada pada batas pagar tribun, melakukan mobilitas suporter ke tempat laga digelar saja tak patut. Namun, bukan berarti mundur dalam hal memberikan dukungan, kita hanya berganti cara saja untuk sejenak.

Dengan begitu, mau tak mau, Sleman Fans hanya bisa menyaksikan tim kesayanganya melalui layar kaca. Kontribusi yang biasa diberikan, seperti membeli tiket, melantunkan suara perut, hingga mempersembahkan koreografi, sementara waktu jelas tidak akan dapat dilakukan.

Kondisi tersebut, memaksa manajemen tim harus memutar otak untuk memberikan jalan. Tujuannya tentu memudahkan suporter untuk dapat mendukung tim meski bukan dalam bentuk kehadiran di stadion beserta biaya yang mereka alokasikan untuk menebus tiketnya.

Situasi seperti ini memang mungkin yang pertama kali dialami, tetapi bukan berarti tidak ada jawaban dari problem tersebut. Dukungan materi tetap dapat dilakukan dengan membeli merchandise resmi maupun berlangganan Elja Story yang baru saja diluncurkan di platform Youtube.

Alternatif lain adalah dengan tetap memberikan dukungan moral kepada para pemain melalui komentar yang membangun di media sosial pribadi sang pemain. Satu lagi, menyaksikan PSS berlaga lewat televisi juga bukan berarti tidak bernilai.

Mendukung dengan batas layar kaca di kala situasi seperti ini tidak akan melunturkan kadar kecintaan terhadap Laskar Sembada. Lebih besar dari itu, untuk saat ini, ketidakhadiran di stadion bisa menyelamatkan eksistensi seluruh elemen yang terlibat dalam ekosistem sepak bola Indonesia.

Sembari menyimpan kembali energi untuk datang ke stadion, mari menjaga antusias ini demi keselamatan dan kelangsungan banyak orang di sekitar kita. Tak lupa, bahwa menurut para pujangga, level kecintaan tertinggi justru hadir saat mendoakan dalam diam (di depan layar kaca).

Komentar

Comments are closed.