Cerita

Setapak Demi Setapak Danilo Fernando Merintis Karier Kepelatihan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Danilo Fernando. Hampir lebih satu dekade lalu namanya dielu-elukan suporter sepakbola tanah air. Permainan ciamiknya memberikan aura magis tersendiri bak tarian samba khas Brasil di tengah lapangan. Kini, meski tak lagi sebagai serdadu di atas rumput hijau, ia tak masih tak dapat jauh dari lapangan. Profesi sebagai pelatih ia geluti sebagai jalan karir selanjutnya.

Tahun 2018, pesepak bola yang masih berkewarganegaraan Brazil tersebut, mengemban tugas untuk mendampingi tim PSS Sleman ketika Seto Nurdiyantoro tengah mengikuti kursus lisensi AFC Pro. Musim ini pun ia masih berada di sisi Coach Seto. Sambil ditemani segelas minuman dingin dan sepiring sandwich sebagai menu sarapannya. Danilo bercerita seluk-beluk karir kepelatihannya.

Siapa pelatih yang memiliki pengaruh bagi karier Anda ?

Jacksen Tiago, karena sama-sama orang Brasil dan merasakan juara pertama kali. Dia mensupport dan mengarahkan saya karena dia sudah lama di sini. Dia orang yang berpengaruh besar bagi saya di Indonesia.Ā  Saya menganggap dia sebagai saudara dan orang tua, saya merantau di sini tidak tahu budaya, tidak tahu bahasa, dan sepakbola pun tidak tahu. Dari dia saya belajar semua, belajar bahasa, belajar budaya, belajar sepakbola di sini bagaimana. Kalau di Brasil lebih ke sepakbola cantik ya, kalau keras oke tapi di sini kok seperti ini ya hehe. 15 tahun yang lalu sifatnya cenderung agak kasar. Tapi saya beradaptasi karena coach Jacksen, sebagai contoh supaya saya bertahan lama di sini.

Kapan Anda memutuskan untuk menjadi pelatih sepakbola?

Saya tidak memutuskan secara langsung, karena hidup saya santai berjalan begitu saya. Saya setelah berhenti (pensiun sebagai pesepakbola) saya jadi CEO di PSMP Mojokerto, lalu manajer di Pusamania Borneo FC, baru ambil keputusan ambil lisensi November 2017 di Brunei Darussalam. Saya ambil, balik ke sini lalu diterima di Madura United bersama coach Gomes De Oliveira karena waktu itu dia tidak ada asisten yang memiliki kesamaan bahasa. Setelah dari sana keluar, lalu pindah ke PSS begitu mulanya.

Ā Apakah ingin meningkatkan lisensi kepelatihan?

Hidup saya itu di sepakbola dari kecil, saya merasa ada prestasi dan karier bagus di sini, jadi kenapa tidak? Saya rasa, saya bisa bagikan ilmu saya buat anak-anak di sini buat mereka yang mau bekerja keras. Namanya belajar tidak ada henti, mungkin tahun depan saya ambil lisensi lagi. Tapi besok kalau ada kesempatan menjadi pelatih kepala, saya lebih suka ke arah pembinaan atau ke akademi.

Apa yang berbeda saat menjadi pemain dan pelatih ?

Bedanya 180 derajat, karena waktu jadi pemain pikirannya cuma tidur, makan, istirahat, latihan, main bagus, yang penting jaga kondisi fit, main bagus, timnya menang sudah selesai. Kalau menjadi pelatih tanggung jawab dan tekanan lebih besar, kalau pemain ada yang mengatur program kita, tapi kalau pelatih mengatur program untuk pemain. Mengatur keseharian, taktikal, fisik, program jangka pendek, dan jangka panjang. Di situ kita kan lebih membutuhkan otak, kalau pada saat bermain lebih ke fisik.

Ā Anda pernah mengatakan, pemain saat ini berbeda dengan Anda dahulu. Bagaimana maksudnya ?

Kalau lihat sekarang itu bedanya karena media sosial dan itu berpengaruh besar kepada pemain. Dan itu tidak hanya di sini, tapi juga pada pemain-pemain lain. Dulu lebih fokus karena media sosial jadi kurang, jadi kinerja kita datang latihan, main, pulang istirahat. Kalau menghibur sendiri paling liburan jalan dengan keluarga atau ke mall. Hal ini berdampak karena seharusnya dia istirahat tapi masih main hp sampai jam 1 (dini hari), jam 2, jam 3 padahal pemain harus istirahat 7-8 jam dan seharusnya itu bergantung kepada kesadaran dan tanggung jawab masing-masing. Karena pengaruhnya ke fisik, ke mental, dan tentunya di lapangan.

Terakhir, apa mimpi Anda bagi PSS Sleman dan sepakbola Indonesia?

Harapan saya bagi PSS, di Liga 1 kekurangan yang kita punya musim lalu di manajemen pelatih dan pemain dibenahi agar lebih maksimal lagi. Jangan sampai setelah di Liga 1 nanti turun, tapi terus bertahan dan musim selanjutnya bisa memiliki program yang jelas dan bersaing di papan atas.

Sementara itu, sepakbola Indonesia sudah lebih baik, tapi masih banyak yang perlu diperbaiki dari semua sisi. Kita berharap kalau ada pelatih yang nantinya memiliki lisensi AFC Pro sepakbola kita bisa lebih modern dan profesional lagi. Tentu difasilitasi oleh PSSI dan klub. Juga dengan diadakannya akademi (dan kompetisi) junior seperti U-16 dan U-17, hal itu langkah awal yang baik untuk ke depan.

Pertanyaan itu mengakhiri perbincangan kami dengan Danilo. Tak lupa kami berjabat tangan sekaligus menyempatkan untuk mengabadikan momen bersama. Setelahnya kami segera membereskan barang bawaan dan bergegas menuju ke bawah. Ternyata Danilo telah berada di meja kasir sambil tersenyum ke arah kami.

 

(Artikel ini merupakan bagian dari wawancara bersama Danilo Fernando, pada bagian kedua ia berkisah tentang seluk beluk karier kepelatihan yang ia rintis)

 

Komentar
Awaludin

Masih menimba ilmu di UIN Sunan Kalijaga dan masih akan terus mencintai PSS. Bisa dihubungi via akun Twitter @al_arif14

Comments are closed.