Cerita

Story of Awaydays: Terima Kasih, Kota Kuda

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Mungkin bagi seorang pendukung sejati akan tahu bahwa apa yang akan dilakukan jika tim kebanggaannya bermain di luar kandang. Sudah barang tentu ia akan bertolak ke kota di mana kebanggaannya akan bermain.

Untuk sebagian orang, awaydays memilki kisah tersendiri ketimbang menonton di kandang klub kebanggaan. Penulis coba membuktikan perkataan tersebut pada musim 2018. Apakah memang benar begitu atau itu hanya sekadar perkataan tanpa alasan kuat.

Berkumpul di daerah perbatasan antara Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, ribuan orang berkumpul dengan tujuan yang sama, yaitu mengawal sang kebanggaan, Super Elja. Pukul 12 malam, rombongan mulai bergerak ke Kuningan. Selama perjalanan, penulis tak berhenti memikirkan, kisah apa yang akan penulis dapat dari perjalanan pulang dan pergi dari Kota Kuda tersebut.

Pukul 11 tepat, keesokan harinya, rombongan besar mulai menduduki Stadion Mashud Wisnusaputra yang menjadi kandang Persiwa Wamena. Setelah itu ribuan orang berpencar hingga radius 1 kilometer guna mencari tempat untuk sekadar beristirahat.

Beberapa orang ada yang menyempatkan untuk membasuh diri, sebagian lainnya mencari kudapan untuk mengisi perut, dan sebagian lainnya bercengkarama dengan rekan-rekannya.

Wajah keheranan tampak dari warga sekitar stadion. Mereka nampak kagum atas antusias Sleman Fans mendukung tim kebanggaannya. Mungkin barangkali mereka menyimpan rasa rindu bahwasanya stadion tersebut pernah menjadi tempat berkerumun di waktu lampau. Tak lupa mereka turut menyapa para tamunya atau sekadar basa-basi dengan kerumunan para pencinta PSS.

Beruntungnya, stadion tersebut berlokasi di tengah kota yang cukup padat. Alhasil, para pejuang awaydays dengan mudah menemukan jajanan lokal yang sangat khas. Memang di sekitaran stadion banyak sekali pedagang kaki lima yang menjajakan panganan khas, terlebih banyak sekali sekolah-sekolah di area tersebut.

Sembari berjalan untuk menemukan hidangan khas setempat, penulis sering menjumpai kuda sebagai moda transportasi. Hal itu turut membuktikan julukan Kabupaten Kuningan itu sendiri.

Setelah memilih hidangan yang dirasa tepat, penulis disuguhkan teh tawar yang menjadi simbol saat kita jajan di warung khas Sunda. Tak lupa penulis turut bercengkrama dengan penjualnya.

Dan lagi-lagi, si penjual mengungkapkan rasa kagumnya atas euforia Sleman Fans. “Ada bola ya mas? Kok rame banget,” tanya ibu si penjual tersebut.

Setelah penulis menjelaskan maksud kedatangan kemari, ibu si penjual tersebut turut bercerita lebih. “Sudah lama banget stadion gak pernah rame, mas,” tutur si ibu. Tentu hal itu salah satu ungkapan rasa rindu atas tim lokal yang pernah berjaya di masanya. Tak lupa ibu penjual turut menyempatkan doa untuk Laskar Sembada, “Ya semoga menang ya mas,” tutup si ibu.

Pada hakikatnya, stadion diciptakan untuk mengumpulkan berbagai massa dengan kecintaaan yang sama. Namun terkadang jika tim tersebut tak lagi berkutik di kompetisi, nyanyian atau chant seolah turut menghilang.

Satu lagi yang membuat Kabupaten Kuningan sulit dilupakan. Ya, tentu saja keramahan warganya. Sudah barang tentu jika seorang yang bertamu dengan santun, tentu akan dibalas dengan suatu tindakan yang terpuji juga. Hukum alam yang membuat simbiosis seperti itu. Kadang kitanya saja yang menyepelakan hal tersebut.

Kunjungan Sleman Fans tentu saja memberikan rezeki tersendiri bagi setiap pedagang di area stadion. Hampir seluruh dagangan mereka ludes terjual. Ini artinya jika kita dengan santun datang ke kota lain, sudah barangkali mendapat sambutan yang hangat dan malah membantu perekonomian setempat.

Jadi, mari kita jaga tradisi rutin ini selagi Tuhan masih mengizinkan. Tentu dengan mendukung kebanggaan sebagaimana mestinya, tak berlebihan dan tak juga kelewat batas. Karena awaydays nyatanya memilki sederet kisah yang sangat luar biasa. Akhir kata, terima kasih untuk warga Kuningan, dan terima kasih, PSS Sleman!

This is Sleman Fans!

Komentar
Bagus Ananditya

Penikmat ketela bakar ketika waktu Maghrib tiba. Bisa ditemui di akun @BagusAnanditya

Comments are closed.