Opini

Tahun Ke-44 PSS: Cinta di Tengah Pandemi

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Kubuka gawai, terpampang angka 20/5/20. Tanggal cantik, pikirku. Oh, aku baru ingat! ini adalah hari jadi PSS.

Dengan kondisi saat ini, PSS memang bukan prioritasku. Tahun yang berat, bahkan untuk PSS, aku tidak ada waktu. Tapi kau adalah kebanggaanku, harus ada penghormatan tersendiri untukmu.

Perayaan memang identik dengan kegembiraan. Perayaan memang sudah seharusnya dirayakan.

Tanpa kita sadari, berbicara tentang PSS adalah berbicara tentang perayaan. Perayaan tentang kemenangan, tentang suka cita, bahkan bersama PSS sebuah kesedihan-pun bisa kita rayakan.

PSS adalah suka duka dan gembira.

Tahun 2020 menjadi masa yang penuh kontradiksi. Dalam benak, ingin kami rayakan seperti mewahnya lini tengahmu musim ini. Namun, apalah daya. Kami harus pasrah seperti penampilanmu di awal kompetisi.

Selalu ada yang baru tiap tahun, bagaimana kami merayakan ulang tahunmu. Koreo di atas tribun, konser musik, berdoa bersama, bersedekah bersama, atau sekadar nyanyian di atas tribun yang berderu.

Di tahun ini, izinkan kami juga melakukan sesuatu yg baru. Hanya doa terpanjat, tanpa ada sorak sorai, ataupun riuhnya lagu.

“Panjang umur kau saudaraku (dan PSS-ku),” harap kami semua.

Di hari bahagiamu, ijinkan kami berdoa tidak hanya untukmu. Pada saat merayakan kerasnya pandemi, tetap harus kami rayakan hari jadimu, walau penuh tatu.
Doa kami, semua ini segera berlalu, kamu pun bisa lekas melaju.

Sekali lagi, dihajar pandemi, inilah cara baru kami mencintai dan merayakan pertambahan usiamu, bak the new normal to celebrate.

Pada akhirnya, 44 hanyalah sebuah angka. Peluh dan ribuan keluh yang menjadikannya berharga. Perjuangan tanpa henti kita semua, untuk melepas dahaga. Walau tahun ini belum bisa juara, tetapi kau adalah segalanya.

Selamat ulang tahun, PS Sleman.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad

Comments are closed.