Cerita

Tak Akan Pernah Lupa, dan Selalu Ingat

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Beberapa hari jelang digelarnya laga antara PS Sleman yang menjamu PSIS Semarang dalam gelaran 8 besar Divisi Utama 2014, pihak kepolisian tidak mengizinkan laga leg ke-2 ini digelar di Stadion Maguwoharjo. Potensi adanya kerusuhan membuat pihak terkait tidak memberikan izin. Lantas, panitia pelaksana akhirnya memilih lapangan AAU untuk menggelar laga tersebut.

Sebelumnya, laga ini bersifat sangat tertutup tanpa dihadiri kedua kelompok suporter mereka. Dan juga, pertandingan ini sebenarnya tidak berpengaruh terhadap hasil dari kedua kesebelasan. Namun, yang menjadi persoalan adalah, kedua tim berupaya menghindari dari posisi juara grup karena nantinya mereka akan bertemu tim kuat, Borneo FC pada babak semifinal.

26 Oktober 2014
Tepat 5 tahun yang lalu, kejadian yang sangat memalukan dan tentu saja mendapat banyak kecaman banyak pihak. Entah siapa yang menginisiasi untuk melakukan sepak bola kotor di hari tersebut. Lima gol yang tercipta seolah menunjukkan bahwa 25 orang yang ada di dalam lapangan terlihat sangat bodoh. Kedua kesebelasan juga nampak tidak memperlihatkan sepak bola yang semestinya. Justru mereka nampak bak seolah anak kecil yang sedang memainkan gim winning eleven yang pada intinya, sesuka mereka.

Selepas Maghrib di hari yang sama, baru muncul pemberitaan yang sangat tidak mengenakkan di telinga fans kedua tim. “Sepak bola gajah,” pola kecurangan lawas kembali terulang. Memang benar saja, ke-5 gol yang tercipta, keseluruhan gol dibuat secara sengaja. Bahkan beberapa own goal sengaja dilakukan karena, ya mereka tidak ingin bertemu Borneo nantinya.

Sanksi dan Perasaan Malu
Selang beberapa hari kemudian, Federasi mengeluarkan sepucuk surat yang tentu saja sangat tidak kita inginkan. Ya, surat tersebut kurang lebih berbunyi hukuman terhadap pelaku, baik pemain maupun pelatih, serta wasit yang bertugas. Dan yang paling menyayat hati adalah, kedua tim dinyatakan diskualifikasi dari kompetisi tersebut. Padahal, kedua tim sebenarnya sangat berpotensi untuk naik kasta, dan memiliki sederet pemain berkualitas.

Tangis kesedihan pun pecah. Seolah semua orang tidak percaya bahwa hal bodoh di sepak bola Indonesia terjadi. Cemoohan dan caci maki seolah tak mau menyingkir hingga kini. Memang itu aib yang sangat pedih bagi kedua suporter. Tapi, apa boleh buat, jika semuanya sudah kadung terjadi.

Tetap Yakin dan Inilah Hasilnya
Lima tahun sudah berlalu. Kedua belah pihak cukup sukses dalam mempertahankan ekosistem yang ada di kota masing-masing. Kedua suporter masih sangat bergeliat paska kejadian memalukan tersebut. Baik PSS dan PSIS, keduanya lantas berjuang susah payah untuk bermain di kasta tertinggi sepak bola Indonesia kembali.
Buah keyakinan yang besar, kedua tim pada akhirnya dipertemukan kembali pada tahun ini. Tentu saja kedua tim kembali berhadapan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Kunci dari semuanya adalah dukungan fans mereka yang masih menaruh harapan besar dengan penuh keyakinan untuk tim mereka.

Pada akhirnya, kita semua kembali menegakkan kepala. Awan kelabu sudah lama menghilang, meskipun Dalang dibalik itu semua belum terungkap. Tak perlu kembali malu, cukup diingat.

Dan inilah mengapa sepak bola harus dihadiri oleh suporter atau penonton. Tentu saja karena, apabila hal itu terjadi di depan mata suporter, semua pemain pasti akan diteriaki umpatan buah dari permainan kotor mereka, dan akan lebih dahulu menghentikan pertandingan ketimbang peluit wasit.

Terima kasih Tuhan, badai sudah berlalu, maafkan semua pihak yang telah berbuat tak semestinya. Kami berjanji, membawa sepak bola Indonesia jauh lebih baik dari hari itu. Semoga saja.

Komentar
Bagus Ananditya

Penikmat ketela bakar ketika waktu Maghrib tiba. Bisa ditemui di akun @BagusAnanditya

Comments are closed.